Selasa, 28 Oktober 2014

Napas Waktu Subuh

Dalam Alquran Allah SWT sering bersumpah dengan waktu, dari waktu fajar (subuh), dhuha, siang hari, sore, dan senja (ashar), hingga malam hari. Menurut para pakar tafsir, setiap benda atau sesuatu yang dijadikan objek sumpah oleh Allah terkandung di dalamnya dua makna.

Pertama, menunjukkan sesuatu itu penting atau terkandung kebaikan di dalamnya. Kedua, ia menjadi tanda atau penunjuk jalan bagi kekuasaan dan kebesaran Allah SWT yang mesti dipahami.

Dalam surah at-Takwir, Allah bersumpah dengan waktu subuh. “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS at-Takwir [81]: 18). Sumpah ini menarik. Dalam Alquran tidak ada benda tidak bernyawa dinyatakan “bernapas” (hidup), kecuali waktu subuh. Apa maknanya?

Mutawalli Sya’rawi memahami ayat ini sebagai tasybih, yakni analogi kedatangan agama Islam dengan waktu subuh. Subuh merupakan permulaan hari ketika cahaya [fajar] mulai bersinar. Subuh juga menyemburkan udara segar yang sangat berguna bagi kesehatan manusia.

Seperti waktu subuh, kedatangan agama Islam memulai kehidupan baru, menyibak kegelapan kelam jahiliyah. Dengan Islam, kehidupan bisa dimulai kembali dan manusia bisa bernapas lega dengan bimbingan dan petunjuk Alquran.

Karena bercahaya dan mengeluarkan udara segar, waktu subuh dipandang sebagai makhluk hidup, bernapas (bernyawa).

Kalau pada malam hari pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan racun (karbon dioksida), saat subuh (pagi hari), pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen alias udara pagi yang bersih dan sejuk.

Napas waktu subuh itu berkah bagi manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, “Allahumma barik li-ummati fi bukuriha” (Ya, Allah berikan keberkahan bagi umatku pada permulaan harinya.) (HR Abu Daud dan Thirmidzi).

Keberkahan waktu subuh itu berdimensi fisik dan nonfisik (spiritual). Dari sisi spiritual, dua rakaat shalat (sunah) fajar disebut oleh Nabi SAW, “lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR Muslim).

Orang-orang terbaik dari generasi sahabat dan tabi’in (al-salaf al-shalih) tidak pernah tidur lagi setelah melakukan shalat Subuh. Mereka berzikir dan membaca wirid-wirid hingga matahari terbit. Tak lama setelah itu, mereka melaksanakan shalat Dhuha, kemudian mereka memulai kerja dan aktivitas.

Dari sisi fisik (duniawi), keberkahan (napas) waktu subuh itu dikaitkan dengan kesehatan, kemajuan ekonomi, dan kesuksesan dalam hidup. Rasulullah SAW pernah mengingatkan Fatimah al-Zahra, putrinya, agar tidak tidur lagi setelah shalat Subuh. (HR Baihaqi).

Pada kesempatan lain, Rasul juga mengingatkannya agar bangun pagi dan giat mencari rezeki. Sebagaimana sabdanya, “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya, pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan.” (HR Thabrani dan Al-Bazzar).

Dalam banyak penelitian diketahui, orang yang rajin bangun pagi, beribadah, dan berolahraga, ia lebih sehat (bugar), lebih produktif, dan memiliki peluang lebih besar meraih kesuksesan.

Bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, keberkahan waktu subuh itu sangat nyata. Tidak bangun pagi, berarti petaka. Telat pergi ke kantor, stres di jalan karena macet, dan banyak energi terbuang percuma. Wallahu a’lam. (Tulisan oleh A Ilyas Ismail)
--------------
Tulisan dikutip dari : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/10/21/nds0y8-napas-waktu-subuh

Jumat, 19 September 2014

Heboh, Beredar Video Anak-anak Kediri Nyanyikan 'Pujian Yesus'

Ironis, duka pengungsi bencana alam Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur, diwarnaii isu SARA, yakni, isu pemurtadan anak-anak Muslim. Saat ini beredar video bertajuk “Kristenisasi Muslim di Kelud” yang diunggah di situs Youtube.

Video berdurasi 47 detik itu diunggah oleh akun Save Moeslem pada 15 September 2014. Dalam video tampak anak-anak berjilbab menyanyikan lagu “Pujian Yesus”. Video itu dilengkapi dengan sub title suara anak-anak berjilbab itu.

Berikut videonya:


Isu SARA itupun meramaikan dunia sosial media. Akun @Inidia2014 menyematkan video itu ke akun-akun ulama dan tokoh Islam. Di antaranya, KH Abdullah Gymnastiar (@aagym), Ustadz Yusuf Mansur (@Yusuf_Mansur), Ustadz Bachtiar Nasir (@bachtiarnasir), dan Ustadz Arifin Ilham (@marifinilham).

@Inidia2014  menulis: “Ironis, Ank2 muslim Gn. Kelud diajarkan pujian  Yesus.https://www.youtube.com/watch?v=Baj4kpoW2S8 … @aagym @Yusuf_Mansur @bachtiarnasir @marifinilham #SaveMoslem.” [gnesw/intel/ahmed/may/voa-islam.com]
(Sumber tulisan dikutip dari : http://www.voa-islam.com/read/christology/2014/09/18/32898/heboh-beredar-video-anakanak-kediri-nyanyikan-pujian-yesus/)

Kamis, 14 Agustus 2014

Muhasabah Iman

Iman manusia bukan sesuatu yang konstan. Melainkan ia fluktuatif. Terkadang naik dilain waktu turun. Naik turunnya iman ini seiring dengan amal baik dan buruk yang dilakukan manusia. Semakin rajin bermaksiat maka semakin keras lah hati. Makin taat kepada ilahi Rabbi , makin terasahlah iman di hati.  Pergantian amal yang dilakukan manusia dan naik turunnya iman inilah yang kemudian menyebabkan seseorang mengalami suatu masa dimana membaca al Quran terasa pahit, mendirikan sholat tiada nikmat, bersedekah  terasa berat, menghadiri majelis ilmu malas, beramar ma’ruf tiada daya, ibadah apapun terasa hambar, tak semangat, lunglai dan tiada gigi untuk beraksi. Ada nasehat kebaikan ditolak, ada kalimah bijak disanggah, ada ajakan maksiat langsung acc.  Astagfirullah.

Adapun langkah yang bisa ditempuh dalam muhasabah iman ini adalah memahami gerangan yang menjadi tanda lemahnya iman itu. Kemudian dikroscek kan dengan kondisi diri masing-masing. Apabila diantara 10 hal berikut ada dalam diri kita maka sesungguhnya iman ini dalam kondisi lemah.

1. Terasa ringan melanggar aturan Allah swt.
Sikap meremehkan maksiat biarpun itu hanya berupa makan sambil berjalan, sesungguhnya itu adalah cikal bakal meremehkan maksiat yang lebih besar lagi. Akhirnya, perbuatan pacaran, korupsi, berbohong dianggap hal biasa sehingga dilakukan secara terang-terangan. Bila tanda ini ada dalam diri kita ingatlah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan” (HR. Bukhari.).

2. Enggan dan abai dalam beribadah.
Bila dalam diri ada rasa malas, enggan, abai, menunda-nunda kebaikan maka itu satu pertanda bahwa iman lagi melorot. Merasa tidak rugi dengan meninggalkan ibadah dan tetap santai alias berleha-leha dengan apa yang sedang dilakukan maka sungguh sadarlah bahwa iman sedang terinfeksi virus yang harus kita sadari.

3. Tidak khusyuk dalam ibadah juga tidak ikhlas menjalankannya
Apabila dalam sholat pikiran dan hati kita melayang-layang mengingat urusan dunia, membaca al Quran sekedar membaca, berdzikir hanya dibibir, bersedekah untuk meraih sanjungan manusia, berdakwah untuk meraih legitimasi manusia dan ibadah-ibadah lainnya yang konsentrasinya bukan ke Allah swt maka itu tandanya lemahnya iman. Maka ingatlah bahwa Nabi bersabda, “Allah tidak menerima doa dari orang yang hatinya lalai dan bergurau” (HR. Tirmidzi)

4. Mudah marah, sempit hati
Banyak hadist nabi yang memerintahkan kita untuk sabar. Dan Allah swt juga mengingatkan bahwa sesungguhnya Dia beserta orang-orang yang sabar. Namun ketika iman ini lemah maka seseorang akan cepet marah walau itu perkara sepele. Cepat marah ini diikuti oleh sikap susah memaafkan kesalahan orang lain, walau kesalahannya juga hanya kecil.
 
5. Sulit menangis dihadapan Allah swt
Orang yang lemah iman dalam suatu kondisi akan menghantarkan pada kerasnya hati. Ketika hati sudah tertutupi oleh noktah-noktah dosa maka ia akan sulit ditembus nur ilahi. Sehingga akan menjadikan sulit untuk meneteskan air mata walau dosa itu nampak didepan matanya.

6. Tiada perasaan marah dan benci saat syariat Allah SWT dilanggar
Ketika al Quran diinjak-injak orang kafir, nabi Muhammad saw dihina, para wanita pamer aurat dan kita tidak menampakkan “emosi” marah dan benci dengan maksiat itu maka tandanya iman ini lemah. Iman ini dipertanyakan. Bukankah selemah-lemahnya iman itu adalah mengingkari kemaksiatan? Jika pengingkaran ini saja tiada maka sebutan apa yang pantas untuk iman yang demikian?

7. Tiada sedih melihat musibah yang menimpa saudara seiman
Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhori)
Umat Islam mengetahui bahwa saat ini saudara kita di Gaza Palestin di bom bardir oleh roket, peluru dan rudal-rudal Israel laknatullah’alaih. Ratusan warga Gaza syahid.  Bila kita mendengar berita yang demikian namun tidak memiliki simpati dan empati sama sekali maka sungguh itu tandanya iman sedang lemah. Jika simpati dalam bentuk doa, infaq atau menyebarkan berita-berita terkait kondisi di sana ataupun kecaman tidak ada satupun yang kita lakukan maka betapa pantas iman ini mendapat gelar iman yang sakit.

 8. Tiada perhatian dengan kondisi umat Islam
Perasaan dingin, cuek terhadap penderitaan, penindasan, musibah, bencana, ynag dialami umat Islam diseluruh belahan dunia adalah petunjuk bahwa iman ini lemah. Konsentrasi perhatian hanya pada kepentingan pribadi, kesejahteraan diri sendiri, kedamaian diri pribadi, ketenangan dan kedamaian diri sendiri maka berhati-hatilah bahwa itu tandanya iman kita lemah. Bukankah Nabi Muhammad saw dalam sebuah sabdanya menyebutkan bahwa umat Islam laksana satu tubuh. Bila ada bagian tubuh yang sakit maka seluruh badan ikut merasakan sakit. Demikian pula seharusnya umat Islam saat ini. Ketika ada saudara kita dibelahan bumi lain tertindas maka seharusnya kitapun ikut merasakan penderitaan mereka.

9. Tiada merasa bertanggungjawab terhadap dakwah dan urusan agama ini
Inilah tanda lemahnya iman berikutnya, yaitu menyerahkan beban dakwah kepada orang lain semisal kyai, ustad, atau guru agama. Sehingga tumpullah lidahnya dari amar ma’ruf. Tapi tajam dalam urusan duniawi. Seolah sudah cukup dengan menyerahkan beban agama ini pada sang kyai. Akankah menunggu hadirnya kyai untuk menasehati rekan kerja yang melanggar syariat Allah swt dkantor? tentu iman yang hidup akan menjawab “tidak”. Tapi lain lagi bagi iman yang lagi yankus (turun) maka ia akan tenang mengadopsi pemikiran bahwa dakwah tugas Kyai.

10. Over dosis dalam mencintai dunia
Dunia yang Allah swt ciptakan dengan segala keindahan dan kenikmatannya telah menjadikan sebagian orang beriman overdosis dalam mencintainya. Hidupnya digantungkan pada dunia. Siang malam mengurusi urusan dunia untuk memenuhi kebutuhan perut. Bila diberi nikmat menyombongkan diri. Bila diberi ujian cepat putus asa dan sempit hati. Inilah tanda iman yang sakit.

Setidaknya 10 inilah tanda-tanda iman yang sedang sakit, lemah dan harus diobati. Mari muhasabah iman dnegan memperhatikan 10 tanda di atas. Apabila ada diantaranya pada diri kita, maka mari segera dibenahi dengan mendekat kepada Allah swt dan mengemis cintaNya. Iman ini harus senantiasa dijaga. Allah swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan beragam Islam” (QS. Ali Imran.  103).Semoga kita bisa meraih sebenar-benar takwa ini. Aamiin, waallahua’lam.
---------------
Dikutip dari tulisan Nadiyah el Haq di www.eramuslim.com (tulisan diedit)

Minggu, 25 Mei 2014

Belajar dari Dua Kuda

Alkisah, seorang pedagang mempunyai dua ekor kuda. Kuda tersebut dimanfaatkan untuk membawa barang dagangan. Seekor kuda membawa garam dan yang lainnya membawa kerang.

Ketika mereka melewati sebuah danau, kuda pembawa garam turun ke danau untuk menghilangkan rasa haus. Ketika sang kuda keluar dari danau, dia terlihat segar bugar.

Kuda pembawa kerang terheran-heran dan bertanya, “Hai teman, apa yang terjadi kepadamu? Mengapa kau terlihat begitu segar bugar?”

Kuda pembawa garam berkata, “Ketika aku turun ke danau, awalnya aku tak merasakan apa-apa sampai aku merendam tubuhku di  dalamnya. Saat itu, aku merasa berat garam di punggungku meleleh bersama air danau. Saat keluar, aku merasa begitu ringan dan segar.”

Tanpa berpikir panjang, kuda pembawa kerang pun turun ke danau berharap mendapatkan kesegaran seperti kuda pembawa garam.

Sang kuda merendam tubuhnya dan meminum air danau sepuasnya. Tanpa ia sadari, kerang yang dibawanya terisi air. Saat keluar dari danau, ia tidak merasa segar, justru sebaliknya merasa semakin berat.

Saudaraku, itulah gambaran sebuah kehidupan. Terkadang kita sering mengikuti apa yang dilakukan orang lain tanpa menimbang manfaatnya bagi diri kita. Bukankah Allah SWT telah memberikan petunjuk akal bagi manusia guna membedakan yang haq dan yang batil?

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS at-Tin: 4). Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk Allah yang sempurna. Allah menyempurnakan manusia dari bentuk dan petunjuk-Nya.

Allah SWT menciptakan manusia dengan bentuk yang indah. Kemudian, Allah SWT menyempurnakannya dengan empat petunjuk, yaitu insting, pancaindra, akal pikiran, dan agama. Lalu, mengapa manusia tidak memanfaatkan keempatnya untuk mencapai kebahagiaan hidup?

Sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu akan bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan orang yang suka mengikuti orang lain tanpa alasan yang jelas, mereka itulah sebodoh-bodohnya manusia
=============
Tulisan Robiatul Adawiyah di www.republika.co.id

Kamis, 24 April 2014

Polos, Peluang untuk Berwarna

Lembaran kertas putih merasa tak nyaman ketika baru saja keluar dari pabrik. Ia merasa bingung dengan kenyataan dirinya. Tidak ada garis, tulisan, atau warna apa pun kecuali putih. Tapi, wujudnya berbentuk buku seperti yang lain.

“Kok aku beda?” tanya si buku polos ke lembaran buku tulis yang lain. “Beda?” sergah salah satu buku tulis bergaris. “Iya. Coba perhatikan, kamu tercetak dengan garis-garis teratur. Ada yang kotak-kotak. Yang lainnya lagi bahkan ada yang tertulis dengan huruf berwarna disertai kartun lucu,” ucap buku polos bersemangat. “Sementara aku? Boro-boro kartun lucu, satu garis pun tak ada yang hinggap!” tambah si buku polos menggugat.

“Jadi, kamu tak terima?” tanya buku bergaris teratur, lembut. “Tentu saja! Ini tidak adil!” sergah si buku polos begitu spontan.

Semua terdiam. Semua jenis buku tulis mulai ambil jarak dengan buku polos. Mereka khawatir kalau ketidakpuasan bukan sekadar gugatan, tapi berubah jadi tindakan. Hingga…

Seorang anak manusia mengambil buku polos dengan tangan kecilnya. Lembaran buku tak bergaris dan berwarna itu pun dipandangi sang anak begitu tajam. Entah apa yang dilakukan, beberapa menit kemudian, buku polos itu tak lagi putih sepi. Ia sudah berubah menjadi halaman penuh warna. Ada goresan merah, hijau, biru, kuning, dan berbagai perpaduan warna lain.

Ketika buku itu ditinggalkan sang anak, beberapa buku lain datang menghampiri. Semua terperanjat. Karena lembaran yang semula polos, kini berubah menjadi bentuk lukisan penuh warna. “Aih indahnya!” gumam semua buku tulis begitu kagum.

Saat itulah, sang buku polos sadar. Selama ini, ia salah. Kepolosannya tanpa garis bukan bentuk penghinaan terhadap dirinya. Bukan juga ketidakadilan. Tapi, karena ia akan menjadi wadah berbagai goresan warna seni yang akan membentuk karya indah. “Ah, aku ternyata buku gambar!” ucap si buku polos akhirnya.
**

Hidup ini penuh warna. Hampir tak ada yang sama pada ciptaan Allah. Walaupun, masih sama-sama manusia. Ada yang kaya, cukup, dan kurang. Ada yang cantik, tampan; ada pula yang biasa saja. Ada yang berhasil dan sukses, tidak sedikit yang merasa gagal.

Tidak jarang, seorang anak manusia mengambil pandangan dari sudut yang sempit. Bahwa, kegagalan adalah sebuah ketidakberdayaan. Bahwa, belum tampaknya peluang-peluang berkarya adalah ketidakadilan. Hingga, jauhnya jodoh buat para lajang merupakan sebuah hukuman.

Cermati dan pelajari. Karena boleh jadi, di balik kegagalan ada rahasia kesuksesan. Di balik sempitnya peluang, ada ujian kemampuan. Di balik lajang yang berkepanjangan, ada pendidikan kemandirian. Dan di balik kertas polos, ada peluang warna-warni keindahan goresan kehidupan.
---------------------
Sumber tulisan dikutip dari : www.eramuslim.com

Rabu, 19 Maret 2014

Terima Kasih atas Ketidaknyamanan ini, Wahai Yang Maha Sayang

Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka.
Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka seperti sudah menjadwalkan kalau hari itu butiran-butiran jagung lezat akan berserakan seusai panen petani.
“Ah, sebuah tempat yang begitu mengasyikkan,” bisik hati seekor burung dara muda yang juga tak mau ketinggalan. Dan, mereka pun mulai mengepak-ngepakkan sayap masing-masing untuk siap terbang.
Sayangnya, sebatang dahan kering tiba-tiba terjatuh dan tepat menimpa si burung dara muda. “Aduh!” teriak sang burung spontan.
Dahan patah yang terjatuh dari ketinggian itu tepat menimpa sayap kanan sang burung. Ia pun merintih kesakitan.
Semua burung yang lain sudah terlanjur terbang meninggalkan si burung dara muda yang masih di depan sarang. Begitu bersemangatnya mereka terbang, hingga lupa kalau salah satu saudara mereka masih tertinggal di pintu sarang.
Kini tinggallah si burung dara muda merintih kesakitan. Beberapa kali ia mencoba terbang, tapi sayapnya yang luka masih nyeri untuk digerakkan. ”Ah, mungkin sayap kananku patah!” keluh sang burung masih membayangkan tempat indah yang mungkin kini sedang dinikmati saudara-saudaranya.
Dalam kesendirian itu, ia sempat bergumam, ”Tuhan, kenapa kau timpakan ketidaknyamanan hanya buatku seorang.”
Selama beberapa jam ia menunggu kepulihan sayapnya agar bisa terbang. Tiba-tiba, seekor burung dara menukik tajam dan nyaris menabrak sarang di mana si burung muda beristirahat. Ia pun kaget ketika mendapati salah seorang saudaranya sudah berada persis di depannya dengan beberapa luka di bagian pangkal kaki dan dada.
“Ada apa, saudaraku?” ucap si burung dara muda sambil memeriksa luka saudaranya. “Mana yang lain?” sambungnya.
Dengan tertatih-tatih, saudara burung itu pun berujar pelan. ”Semuanya tertangkap jebakan manusia. Hanya aku yang berhasil kabur,” ucap sang burung sebelum akhirnya terkulai.
Saat itu, si burung dara muda pun tercenung. Ia seolah bingung, apakah dengan kondisi patah sayapnya itu ia sedang diberikan ketidaknyamanan oleh Tuhan, atau sebaliknya.
**
Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita. Bisa berupa gagal karir karena musibah, putus pendidikan karena biaya, gagal berjodohan karena sesuatu hal, dan sebagainya.
Nurani kemanusiaan kita pun seperti berontak untuk akhirnya mengatakan, “Tuhan, kenapa Kau timpakan ketidaknyamanan ini buatku seorang?”
Kalau saja ada kemampuan mata kita untuk melihat ujung perjalanan waktu yang akan kita alami, kalau saja kita bisa mengintip dari celah tirai hikmah hidup yang akan dilalui, mungkin hati dan lidah kita akan berujar, ”Terima kasih atas ketidaknyamanan ini, wahai Yang Maha Sayang!”
------------------------
Dikutip dari www.eramuslim.com

Minggu, 09 Maret 2014

Jumatan di Singapura

Kamis malam tiga minggu lalu kaki ini untuk pertama kalinya menjejakkan diri di tanah negara singaputih Singapura, Setelah terbang dari jakarta menuju batam, dilanjutkan perjalanan laut dri pelabuhan Batam Center ke Harbourfront Singapura. Telah terlihat kilauan cahaya lampu gedung-gedung tinggi diseberang sana. Dalam hatiku bertanya seperti apakah negeri Singapura yang banyak dikatakan sebagai Israel-nya Asia.

Satu jam perjalanan dari Pelabuhan Batam Center menuju Harbourfront. Kapal Feri merapat, pemeriksaan terlewati. Seorang petugas berbahasa melayu memudahkan proses imigrasi. Kemudian kaki ini menuju pintu keluar pelabuhan. Dengan escalator menuju ke atas terus naik mengikuti tuntunan tanda exit. Tak lama kemudian tubuh ini telah keluar dari harbourfront. Alangkah kagetnya, “Subhanallah”, ternyata saya baru keluar dari sebuah mall megah yang dibawahnya adalah pelabuhan besar. Benar-benar detail dan terkonsep pelabuhan Harbourfront ini.

Di pinggir jalan kulihat antrian manusia, bukan menunggu bis tapi menunggu Taksi. Begitu teratur dan disiplin. Satu-satu mereka menaiki taksi. Aku terus melangkah ke pinggir jalan.

Tujuanku adalah Masjid Tumenggung, masjid milik kerajaan Malaysia untuk menemui teman yang siap menjemputku tepat di depan Pelabuhan Harbourfront atau Mall megah ini, entah apa yang harus disebut pelabuhan di dalam mall. Sekali lagi aku seperti seorang urban yang baru saja pergi ke kota besar. Padahal saya lahir di Jakarta yang disebut kota metropolitan. Jadi berpikir kalau jakarta adalah kota metropolitan, maka Singapore akan kusebut Super Metropolitan karena begitu teratur dan terkonsep.

Saya tidak akan bercerita tentang kota Singapura yang penuh dengan keta’atan penduduknya dengan sistem yang telah dibuat. Tetapi lebih kepada keberke sanan ketika melaksanakan Sholat Jumat di tiga masjid Singapura. Setiap Jumat teman selalu mengantar menuju masjid. yang terdekat adalah Masjid Tumenggong. Saya tergopoh menuju tempat wudhu, tetapi teman saya mengajak ke sebuah serambi di belakang masjid. Saya benar-benar tak tahu maksudnya.

“Kita makan dulu sebelum Jumatan.” Agak kaget sejenak, benarkah ada makan siang sebelum jumat di masjid ini. Lalu barisan meja dan bangku panjang dengan jamaah yang mengantri untuk makan siang kian memadati ruang tersebut. Saya berbisik ke teman, “Andai di Indonesia seperti ini pasti menjadi sarana dakwah yang luar biasa.” “Pastinya masjid akan ramai selalu dengan jamaah pastinya”, teman membalas bisikan saya. Melayu, India, Chinesse bersama melahap makan siang yang telah disediakan pengurus masjid.

Apakah masjid ini tidak bangkrut bila terus menyediakan makan siang seperti ini. Pertanyaanku terjawab saat pengurus masjid menyampaikan laporan keuangan amal masjid yang setiap minggu mendapatkan amal dari jamaah sampai kisaran S$3000-S$5000. Subhanallah jumlah yang fantastis. Keberkesananku dalam 3 Jumatan di masjid Singapura. Semoga Indonesia akan sama seperti masjid-masjid di Singapura. Amin.

Seusai sholat Jumat di Masjid Al-Makmur Woodlands Ave, Singapura.
Tulisan Yayan Supardjo di www.eramuslim.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chitika

 

Buletin Hidayah Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger