Rabu, 19 Maret 2014

Terima Kasih atas Ketidaknyamanan ini, Wahai Yang Maha Sayang

Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka.
Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka seperti sudah menjadwalkan kalau hari itu butiran-butiran jagung lezat akan berserakan seusai panen petani.
“Ah, sebuah tempat yang begitu mengasyikkan,” bisik hati seekor burung dara muda yang juga tak mau ketinggalan. Dan, mereka pun mulai mengepak-ngepakkan sayap masing-masing untuk siap terbang.
Sayangnya, sebatang dahan kering tiba-tiba terjatuh dan tepat menimpa si burung dara muda. “Aduh!” teriak sang burung spontan.
Dahan patah yang terjatuh dari ketinggian itu tepat menimpa sayap kanan sang burung. Ia pun merintih kesakitan.
Semua burung yang lain sudah terlanjur terbang meninggalkan si burung dara muda yang masih di depan sarang. Begitu bersemangatnya mereka terbang, hingga lupa kalau salah satu saudara mereka masih tertinggal di pintu sarang.
Kini tinggallah si burung dara muda merintih kesakitan. Beberapa kali ia mencoba terbang, tapi sayapnya yang luka masih nyeri untuk digerakkan. ”Ah, mungkin sayap kananku patah!” keluh sang burung masih membayangkan tempat indah yang mungkin kini sedang dinikmati saudara-saudaranya.
Dalam kesendirian itu, ia sempat bergumam, ”Tuhan, kenapa kau timpakan ketidaknyamanan hanya buatku seorang.”
Selama beberapa jam ia menunggu kepulihan sayapnya agar bisa terbang. Tiba-tiba, seekor burung dara menukik tajam dan nyaris menabrak sarang di mana si burung muda beristirahat. Ia pun kaget ketika mendapati salah seorang saudaranya sudah berada persis di depannya dengan beberapa luka di bagian pangkal kaki dan dada.
“Ada apa, saudaraku?” ucap si burung dara muda sambil memeriksa luka saudaranya. “Mana yang lain?” sambungnya.
Dengan tertatih-tatih, saudara burung itu pun berujar pelan. ”Semuanya tertangkap jebakan manusia. Hanya aku yang berhasil kabur,” ucap sang burung sebelum akhirnya terkulai.
Saat itu, si burung dara muda pun tercenung. Ia seolah bingung, apakah dengan kondisi patah sayapnya itu ia sedang diberikan ketidaknyamanan oleh Tuhan, atau sebaliknya.
**
Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita. Bisa berupa gagal karir karena musibah, putus pendidikan karena biaya, gagal berjodohan karena sesuatu hal, dan sebagainya.
Nurani kemanusiaan kita pun seperti berontak untuk akhirnya mengatakan, “Tuhan, kenapa Kau timpakan ketidaknyamanan ini buatku seorang?”
Kalau saja ada kemampuan mata kita untuk melihat ujung perjalanan waktu yang akan kita alami, kalau saja kita bisa mengintip dari celah tirai hikmah hidup yang akan dilalui, mungkin hati dan lidah kita akan berujar, ”Terima kasih atas ketidaknyamanan ini, wahai Yang Maha Sayang!”
------------------------
Dikutip dari www.eramuslim.com

Minggu, 09 Maret 2014

Jumatan di Singapura

Kamis malam tiga minggu lalu kaki ini untuk pertama kalinya menjejakkan diri di tanah negara singaputih Singapura, Setelah terbang dari jakarta menuju batam, dilanjutkan perjalanan laut dri pelabuhan Batam Center ke Harbourfront Singapura. Telah terlihat kilauan cahaya lampu gedung-gedung tinggi diseberang sana. Dalam hatiku bertanya seperti apakah negeri Singapura yang banyak dikatakan sebagai Israel-nya Asia.

Satu jam perjalanan dari Pelabuhan Batam Center menuju Harbourfront. Kapal Feri merapat, pemeriksaan terlewati. Seorang petugas berbahasa melayu memudahkan proses imigrasi. Kemudian kaki ini menuju pintu keluar pelabuhan. Dengan escalator menuju ke atas terus naik mengikuti tuntunan tanda exit. Tak lama kemudian tubuh ini telah keluar dari harbourfront. Alangkah kagetnya, “Subhanallah”, ternyata saya baru keluar dari sebuah mall megah yang dibawahnya adalah pelabuhan besar. Benar-benar detail dan terkonsep pelabuhan Harbourfront ini.

Di pinggir jalan kulihat antrian manusia, bukan menunggu bis tapi menunggu Taksi. Begitu teratur dan disiplin. Satu-satu mereka menaiki taksi. Aku terus melangkah ke pinggir jalan.

Tujuanku adalah Masjid Tumenggung, masjid milik kerajaan Malaysia untuk menemui teman yang siap menjemputku tepat di depan Pelabuhan Harbourfront atau Mall megah ini, entah apa yang harus disebut pelabuhan di dalam mall. Sekali lagi aku seperti seorang urban yang baru saja pergi ke kota besar. Padahal saya lahir di Jakarta yang disebut kota metropolitan. Jadi berpikir kalau jakarta adalah kota metropolitan, maka Singapore akan kusebut Super Metropolitan karena begitu teratur dan terkonsep.

Saya tidak akan bercerita tentang kota Singapura yang penuh dengan keta’atan penduduknya dengan sistem yang telah dibuat. Tetapi lebih kepada keberke sanan ketika melaksanakan Sholat Jumat di tiga masjid Singapura. Setiap Jumat teman selalu mengantar menuju masjid. yang terdekat adalah Masjid Tumenggong. Saya tergopoh menuju tempat wudhu, tetapi teman saya mengajak ke sebuah serambi di belakang masjid. Saya benar-benar tak tahu maksudnya.

“Kita makan dulu sebelum Jumatan.” Agak kaget sejenak, benarkah ada makan siang sebelum jumat di masjid ini. Lalu barisan meja dan bangku panjang dengan jamaah yang mengantri untuk makan siang kian memadati ruang tersebut. Saya berbisik ke teman, “Andai di Indonesia seperti ini pasti menjadi sarana dakwah yang luar biasa.” “Pastinya masjid akan ramai selalu dengan jamaah pastinya”, teman membalas bisikan saya. Melayu, India, Chinesse bersama melahap makan siang yang telah disediakan pengurus masjid.

Apakah masjid ini tidak bangkrut bila terus menyediakan makan siang seperti ini. Pertanyaanku terjawab saat pengurus masjid menyampaikan laporan keuangan amal masjid yang setiap minggu mendapatkan amal dari jamaah sampai kisaran S$3000-S$5000. Subhanallah jumlah yang fantastis. Keberkesananku dalam 3 Jumatan di masjid Singapura. Semoga Indonesia akan sama seperti masjid-masjid di Singapura. Amin.

Seusai sholat Jumat di Masjid Al-Makmur Woodlands Ave, Singapura.
Tulisan Yayan Supardjo di www.eramuslim.com

Selasa, 11 Februari 2014

Tahun Ini Tidak Ada Valentine Lagi

Tahun itu Nero menjadi mualaf. Begitu pesan tertulis di messangerku dari seseorang negara nun jauh di sana. Saat itu 1 Muharam 1429 H, atau tanggal 10 Januari 2008 M, Nero mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan puluhan mualaff di Masjid Islamic Cultural Center, New York.

Aku Jadi ingat kira-kira kilas balik  yang lalu, ketika pesawat kami tertunda di Bandar Seri Begawan dan kami harus menunggu keberangkatan hingga malam itu menuju Shardjah, Emirat Arab. Kami harus menunggu cukup lama di Brunai. Bagiku ini perjalanan yang cukup melelahkan. Pagi-pagi sekali kami terbang dari Balikpapan menuju Jakarta, kemudian siangnya kami melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Brunai Darusalam, karena kami akan berganti pesawat menuju Shardjah dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jeddah.

Dia melihatku dengan wajah begitu kelelahan. Kemudian dia menyapaku, Are you from Indonesia? Sapanya. Yup, jawabku. Hai, saya Nero, mau ke mana? Tanyanya dengan bahasa Indonesia yang masih terdengar aksen inggrisnya. Ke Jeddah. Jawabku lagi. Oh…gumamnya. Saya mau Tanya, apa itu casing yang kamu pakai? Tanyanya sambil menunjuk jilbab panjang yang aku kenakan. Oh, ..this is jilbab, kami bilang jilbab or kerudung..jawabku. Oh. I see..jawabnya.

Kami memulai pembicaraan dengan panjang lebar. Dia tertarik dengan busana muslim yang aku kenakan. Dia kagum dengan orang-orang melayu, mengenakan busana yang serba tertutup dengan iklim tropis yang notebenenya sangatlah panas.

Nero, blasteran Jawa – Jerman. Nama lengkapnya Nero Narianto Stocholm. Nama Nero diambil dari raja Nero yang dikenal sebagai ‘pembakar’ kota Roma, Narianto diambil dari kata penari (ibunya penari Jawa dan masih mengabdi di keraton Jogjakarta). Stocholm adalah nama akhir ayahnya, yang berasal dari Berlin, Jerman. Wajah indonya sangat kental, nuansa Jerman, terutama hidungnya sangat jelas kalau dia adalah blasteran. Dia tinggal di New york bersama adiknya. Kedua orangtuanya masih menetap di Jakarta dan ibunya masih sering mengajar nari di Jogja. Saat itu dia sedang mempelajari Islam.

Hari itu dia hendak berangkat menuju Jeddah bersama rombonganku. Menurutnya, dia akan bertemu dengan syaikh yang selama ini menjadi gurunya di Madinah, saat itu Nero masih memeluk agama Nasrani. Sebelum memeluk Nasrani, Nero berpindah-pindah agama, berawal dari seorang atheis, yang kemudian berusaha mencari jati dirinya, kemudian berpindah menjadi seorang Yahudi dan Nasrani.

Ada pertanyaannya yang mungkin membuatku terhenyak dan mungkin bagi kita semua akan berfikir lama untuk menjawab. Mengapa kamu memilih untuk memeluk agama Islam apa karena ayah-ibumu Islam? Dan mengapa kamu disebut muslimah? Sebuah pertanyaan sederhana tetapi bagiku membutuhkan perjuangan besar untuk menjawabnya. Bagi Nero, yang ibunya beragama Islam, dan ayahnya yang beragama nasrani. Tidak mudah memantapkan hati pada satu agama, tapi jika kita tidak yakin dan menjalankan dengan baik agama yang sekarang kita anut. Cukup lama dia menjadi atheis, kemudian menjadi penganut Yahudi dan terakhir memilih nasrani. Tetapi tidak ada kemantapan hati dan beribu pertanyaan yang selalu singgah dalam hatinya.

Saya tidak bisa menjalankan karena mengikuti orang tua, saya harus yakin, karena mencari Tuhan itu sungguh luar biasa, alasannya. Ketika aku bertanya mengapa dia tertarik mempelajari Islam. Saat ini saya sedang mempelajari Islam, Karena sampai hari ini, yahudi ataupun nasrani tidak membuat saya yakin, dan saya sungguh benar-benar kagum dengan kebersamaan umat muslim di Jakarta ketika sholat, mereka tidak melihat siapa yang berada di depan, yang berada di depan adalah mereka yang terlebih dahulu bergerak mendengar adzan waktu masuk sembahyang. tidak membedakan mana yang kaya dan miskin.

Dia mempelajari Islam setelah dia bertandang ke rumah orang tuanya di Jakarta setahun yang lalu, ketika itu ibunya meletakkan terjemahan al-quran diruang keluarga, dan Nero penasaran dengan isi al-quran, karena di Amerika agama pemilik kitab suci ini difitnah sebagai agama orang teroris. Betapa terkagum-kagumnya dia begitu membaca isi Al-Quran, bahasanya, dan perintah-perintah yang halus dari Tuhan untuk manusia.

Sejak itu Nero, berusaha mengikuti pengajian di Jakarta ataupun di New York, terkadang dia juga mengambil bahan-bahan dari situs-situs Islam.

9 jam berlalu, tidak terasa perjalanan jauh telah kami tempuh. Pesawat kami transit beberapa menit di Shardjah, Uni Emirat Arab dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah.

Kemudian, 2 jam setelah itu kami tiba di Jeddah. Kami tiba tepat pukul 4.00 pagi waktu Jeddah, atau kira-kira pukul 9 waktu Jakarta.

Setelah perwakilan travel mengumpulkan rombonganku, Nero memisahkan diri dari kami, maybe tomorrow I’ll go to Madinah, insyaAlloh. today I meet my friend from India, he’s a student of Universitas Islam Madinah. Nice to meet you, I like your Jilbab, I like discuss with you, ..see you next time. Nero berpamitan dan kemudian menghampiri temannya yang berasal dari India.

Hidup itu pilihan, Nero sudah membuktikannya, aku bisa mengerti mengapa dia memilih jalannya saat ini. Karena Alloh menunjukkan kepada kita, mana jalan yang baik dan mana jalan yang salah, setelah itu tinggal kita yang memilih. Dan dari Nero juga aku belajar, menjadi seorang Muslim itu bukan berawal karena orang tua atau karena kita dilahirkan dengan kondisi lingkungan yang muslim, tapi karena kita yakin dan kita sanggup untuk menjalankannya.

Apa pernah kita bercermin pada diri sendiri, seandainya orangtua kita tidak beragama muslim? Pasti kita memilih apa yang dipilihkan oleh orang tua kita. Menjadi muslim bukan hanya ‘label’ semata, tapi harus adanya keyakinan dan kepercayaan serta kesanggupan untuk menjalaninya. Banyak dan banyak sekali umat muslim yang mengaku beragama Islam, tetapi perilaku dan kegiatannya tidak mencerminkan keIslamannya. Banyak yang mengaku Islam dan faham akan hukum-hukumnya, tapi banyak pula yang melanggar bahkan berani meninggalkan kewajibannya untuk sholat.

Terkadang kita merasa sebagai muslim, tetapi kita tidak peka dengan keadaan saudara kita sesama muslim. Kita bahkan menutup pintu rapat-rapat untuk membantu mereka, kita sering mempercayai sesuatu daripada kita percaya dengan takdir Alloh, kita sering lalai menjalankan sholat 5 waktu, kita lebih sering curhat pada manusia daripada beroda dan mengadu kepada Alloh, kita sering meninggalkan Al-Quran sebagai pegangan hidup kita dan memilih Koran atau kertas kerja sebagai bahan referensi hidup kita, kita sering mengejek saudara-saudara kita yang berdakwah daripada mendengarkan isi dakwahaannya, kita sering tidak memaafkan kesalahan saudara kita daripada kita bersilaturahmi. Bagaimana kita bisa disebut muslim?

Nero, How bout your V’day 14th Feb? Tanyaku ke Nero via messanger, yang memang menjadi wadah diskusi jarak jauh kami. Dan jawabannya membuat aku tersenyum sendiri…Sorry my dear, This year I wasn’t to celebrated V’day, coz I’m a muslim now…how bout u? Tanyanya lagi. this is a big job. This is our duty to got Islam Kaffah, …keep on and go on your dakwah, …

Ya, keep on our dakwah, karena ini adalah amanah – Nya. He has a Islam, …Nero is my brother now.

(especially dedicated to Nero Narianto. thanks to give me inspiration, semoga Alloh mempertemukan kita lagi dalam ibadah yang ikhlas)
-------------------------
Dicopy dari tulisan Rini Diana Setyawati di www.eramuslim.com

Rabu, 18 Desember 2013

Inilah Kesalahan Para Orientalis Barat Dalam Memahami Alquran

Alquran adalah Firman Allah SWT yang memiliki ciri-cirinya sendiri sebagai teks suci. Yang berbeda dengan ciri-ciri umum sebuah buku karangan manusia. Di antara ciri-ciri yang hanya dimiliki Alquran antara lain:

Pertama, Alquran menggunakan bahasa Arab, yang tidak hanya menulis alphabetnya dari kanan ke kiri, tapi juga menulis angka numeriknya dari kiri ke kanan.

Kedua, Alquran mengatur penulisan teksnya, tidak berdasarkan urutan turunnya ayat atau surahnya, tetapi berdasarkan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW Utusan-Nya.

Ketiga, Alquran menggunakan kata ganti untuk Diri Allah SWT, tidak hanya menggunakan kata ganti Saya (Ana), tapi juga menggunakan kata ganti Kami (Nahnu)  dan Dia (Huwa).

Keempat, Alquran menggunakan gramatika bahasa, yang dalam struktur kata atau ayatnya, tidak hanya bisa merujuk pada makna kata atau makna ayat sebelumnya (di belakangnya), tapi juga bisa merujuk kepada makna kata atau ayat sesudahnya (di depannya).

Kelima, Alquran menyampaikan pesan tauhid sebagai pesan intinya, tidak hanya menggunakan pendekatan deskriptif, tapi juga pendekatan matematis dalam struktur bangunan ayat dan surahnya.

Keenam, Alquran menyampaikan keseluruhan deskripsi kandungan isinya, tidak hanya  dalam 114 surah, tapi juga menyampaikan deskripsi keseluruhan isinya dalam  kapsulasi satu surah.

Ketujuh, Alquran dalam menguraikan pesan  tauhid, tidak hanya dengan menggunakan sebanyak 323.671 huruf, tapi juga menyampaikan pesan tauhid itu dalam kondensasi satu huruf.

Kedelapan, Alquran tidak hanya dapat dibaca dan dipahami makna ajaran yang dikandungannya, tapi juga dapat dihafal keseluruhan teksnya yang terdiri dari 114 surah, yang dicetak dalam sekitar 700 halaman.

Kesembilan, Alquran tidak hanya dapat dilombakan dalam penguasaan kandungan maknanya, tapi juga dapat dilombakan dalam penguasaan keindahan nada bacaannya.

Kesepuluh, Alquran bila dipelajari dengan niat yang tulus dan jujur, tidak hanya akan memperoleh pemahaman tentang makna  pesan-pesan yang dikandungnya, tapi juga akan mendapatkan hidayah keimanan, sehingga menjadi Muslim setelah memahaminya.

Kesebelas, Alquran tidak hanya memerintahkan manusia untuk berpikir tentang keseluruhan sistem kehidupan ciptaan-Nya, tapi juga memberikan contoh pendekatan sistem dalam menguraikan detil pesan-pesannya.

Itulah di antara ciri-ciri yang khas dimiliki Alquran, firman Allah SWT, sebagai petunjuk bagi kehidupan seluruh umat-Nya. Karena itu, siapa saja yang ingin mempelajari Alquran secara serius dan mendalam, perlu menyadari terlebih dahulu bahwa Alquran adalah sebuah Buku Bacaan yang khas (unik) dilihat dari pengaturan penulisan, bahasa, komposisi, ketelitian, tema, isi, penyampaian, keaslian, kesucian dan dampak yang ditimbulkannya.

Sehingga, perlu menyadari sejak awal, bahwa berpegang pada konsep sebuah buku biasa yang dipahami selama ini, tidak akan menolong. Bahkan boleh jadi akan menghambat, untuk pencapaian pemahaman yang utuh dan benar tentang kandungan Alquran.

Dan di sinilah letak kesalahan mendasar dari para orientalis Barat dalam memahami makna Alquran, selama ini. Mereka (para orientalis) mempelajari Alquran sebagai sebuah buku biasa, dengan ciri-ciri buku pada umumnya yang mereka pahami. Maka, hasil studi mereka sudah dapat diduga, bukanlah suatu pemahaman yang benar tentang kandungan Alquran.

Bahkan sangat disesalkan, tanpa mereka sadari dan mau mengerti, apa yang dihasilkan para orientalis adalah kesimpulan-kesimpulan dan kritik-kritik yang salah, sehingga menyesatkan orang banyak tentang Alquran.
          
Maka, untuk mempelajari dan memahami kandungan makna Alquran, perlu diawali dengan pendekatan dan niat yang tulus dan jujur. Ketulusan dan kejujuran dalam berusaha memahami secara optimal ilmu dan hikmah yang dikandung Alquran, dengan memosisikan Alquran secara benar, yaitu sebagai kitab suci, firman Allah SWT. Karena tidak ada yang mengetahui secara persis kandungan ilmu dan hikmah Alquran, selain Allah SWT sendiri.

Tugas kita adalah berupaya optimal agar pemahaman kita bisa mendekati makna yang sesungguhnya. Dengan tujuan agar ilmu dan hikmah Alquran yang kita pahami, dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas zikir dan syukur, shalat dan doa kita, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Allah ‘Alamu Bishshawab

----------------
Tulisan Oleh DR M Masri Muadz MSc (Penulis Buku Paradigma Al-Fatihah) di www.republika.co.id

Jumat, 06 Desember 2013

Sudut Pandang Positif

Alkisah, ada pasangan muda yang baru saja menikah dan pindah rumah. Mereka tinggal di sebuah kompleks perumahan yang cukup asri dengan tetangga yang ramah satu sama lainnya. Beberapa bulan menempati rumah baru tersebut, mereka sudah cukup akrab dengan tetangga kiri kanan.

Suatu kali, sang istri menengok dari balik jendela samping ke rumah tetangganya. Kebetulan, pagi itu si tetangga sedang menjemur baju. Saat itu, ia sedang menyiapkan sarapan suaminya. Tiba-tiba, sang istri berkata, “Ayah, lihatlah tetangga kita. Mereka orangnya baik. Tapi sayangnya kurang bersih saat mencuci pakaian ya..”

Sang suami hanya tersenyum. Ia tidak menanggapi omongan istrinya itu.

Namun, di pagi hari berikutnya, istrinya terus-menerus memberikan komentar yang senada. Bahkan, hingga seminggu kemudian, komentarnya bertambah pedas. “Aku lihat, makin hari malah makin tambah kurang bersih saja cucian mereka. Kita harus memberi tahu mereka, menunjukkan bahwa kita ini tetangga baru yang baik dan peduli.”

Sang suami kembali hanya tersenyum. Namun, kali ini ia berujar pendek. “Nanti lihat saja saatnya.”

Di akhir minggu, saat mereka libur, sang suami tampak bangun lebih pagi dari biasanya, mendahului istrinya.

Saat bangun, sang istri setengah terkejut. Tidak biasanya sang suami bangun mendahuluinya, apalagi di hari libur. “Ada apa suamiku? Apa ada pekerjaan kantor yang kamu bawa sampai hari libur saja masih harus bangun pagi-pagi?” tanya sang istri.

Suaminya hanya tersenyum. Dan, seperti biasa, kemudian percakapan terjadi di ruang makan. Namun, kali ini sang istri berkomentar dengan nada yang jauh lebih menyenangkan. “Wah… akhirnya ada juga yang memberi tahu tetangga kita ya. Cucian mereka tampak lebih bersih dan rapi. Warnanya baju-bajunya bahkan terlihat sangat cemerlang. Apakah engkau tadi pagi yang akhirnya memberi tahu mereka agar bisa mencuci sebersih diriku? Pasti kamu juga tidak tahan dengan kondisi cucian mereka sehingga memutuskan memberi tahu langsung. Betul?” sahut sang istri.

“Sebenarnya, tak ada yang memberi tahu mereka apa pun. Aku tadi pagi hanya bangun lebih pagi untuk membersihkan kaca jendela kita sendiri,” sebut sang suami. dengan bijak

Sang istri tampak kaget dan sedikit malu.

“Istriku… aku tahu dirimu bermaksud baik. Tapi, cobalah lihat lagi lebih saksama. Kadang memang kita melihat semut di kejauhan, tapi gajah di depan mata tak tampak. Sering kali kita melihat orang lain, padahal sebenarnya yang lebih perlu kita perhatikan adalah apa yang ada pada diri kita. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kamu dan kita bersama, untuk mau mengubah sudut pandang saat melihat apa yang kita anggap kurang dari orang lain.”

Pembaca yang berbahagia,

Acap kali kita mendengar ada suatu hal yang langsung kita tanggapi, tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Dan harus diakui, kadang orang memang lebih asyik mengomentari orang lain dibandingkan melihat apa yang ada dalam diri sendiri.

Padahal sebenarnya, banyak hal yang bisa diselesaikan jika dimulai dari diri sendiri. Ada banyak kondisi yang bisa segera diperbaiki jika lebih mau mengintrospeksi diri. Ada solusi yang jauh lebih mudah diperoleh saat kita mawas diri. Di sinilah pentingnya kita untuk selalu membersihkan “jendela” kotor kita sendiri yang kerap menutupi hati, merusak akal sehat, atau bahkan memburamkan kejernihan pikiran.

Mari, sadari bahwa ada banyak hal yang bisa kita perbaiki jika mau mengoreksi diri. Ada banyak jendela-jendela “kotor” yang bisa kita bersihkan untuk menjadikan “dunia” sekitar kita jauh lebih cerah, ceria, cemerlang, dan menyenangkan. Dengan begitu, dunia akan lebih indah dengan “sudut pandang” baru yang positif, yang tentu bisa membawa kita pada kebahagiaan sejati.
------------------
Dikutip dari tulisan Andrie Wongso di www.andriewongso.com

Jumat, 15 November 2013

Akhirnya Dia Kembali

Sejak kecil dia dimanja oleh kakeknya. Apapun permintaan sang cucu dikabulkan. Setelah sang kakek meninggal, dia mengalami goncangan, terutama karena bapaknya sangat keras dan disiplin.

Permintaannya lebih banyak ditolak daripada dikabulkan. Mulailah dia mencuri, mula-mula hanya mengambil uang kas di toko milik bapaknya. Tatkala pengawasan kotak uang di toko diperketat, mulailah dia mencuri di tempat lain.

Bapaknya marah luar biasa. Akibatnya sang anak mulai menjauh dari bapaknya. Jika bapak datang ke rumah, sang anak langsung pergi. Lama-lama sang anak juga menjauh dari seluruh anggota keluarga. Jadilah dia anak jalanan.

Berpuluh tahun lamanya sang anak tidak diketahui keberadaannya. Sampai pada suatu hari, ada yang melihatnya di suatu kota besar yang penuh hiruk pikuk.

Sang anak sudah berubah menjadi seorang pemuda bertubuh tegap, di lehernya teruntai kalung emas yang cukup besar. Di jari tangannya ada dua batu permata yang menonjol. Secara ekonomi, sepertinya dia cukup eksis.

Tetapi sayang, hidupnya bergelimang dosa. Keluarga, terutama ibunya membujuknya untuk kembali pulang ke rumah, bergabung dengan keluarga.

Dia memang mau pulang ke rumah, sekadar melepaskan kerinduan kepada ibu dan adik serta kakaknya. Kepada sang bapak, sepertinya dia menyimpan dendam. Jika bapaknya datang, dia langsung pergi.

Tentu saja ibu dan saudara-saudaranya selalu berusaha mengingatkan dan membujuknya untuk bertaubat, kembali ke jalan yang benar:  mencari rezeki yang halal, menegakkan shalat dan meninggalkan perbuatan maksiat.

Tetapi sepertinya hatinya sudah tertutup. Semua nasehat masuk telinga kiri ke luar telinga kanan. Dia tetap jauh dari agama, bahkan semakin jauh.

Sampai berumur lebih empat puluh tahun dia belum juga bertobat. Apakah Allah sudah betul-betul menutup hatinya? Ternyata tidak.

Pada suatu hari saya dapat berita bahwa dia sudah bertobat. Bahkan sudah pergi ke Makkah melaksanakan ibadah haji dengan isterinya.

Sekarang dia sudah rajin shalat, bahkan tahajud. Untuk kehidupan sehari-hari, dia benar-benar sudah berbisnis yang halal. Saya jadi penasaran apa yang menyebabkan dia mau bertobat.

Dalam suatu  tugas ke daerah, kebetulan ke kota tempat dia berdomisili, saya sempatkan mengunjungi laki-laki yang sudah tobat itu. "Peristiwa apa yang menyebabkan Anda sadar?" Tanya saya tak sabar begitu ketemu.

Sambil senyum dia menjawab: "Rhoma Irama!" Jawabannya mengagetkan. "Ketemu langsung, apa melalui syair lagunya," sahut saya tidak sabar lagi. Dia ketawa. Kemudian meneruskan kisah pertobatannya.

"Rumah yang saya tempati sebelum ini berada dekat masjid. Setiap Subuh saya terbangun oleh suara azan." Rupanya  suara azan itulah yang diejeknya sebagai lagu Rhoma Irama.

"Sampai pada suatu Subuh", lanjutnya lagi, "setelah mendengar azan, tiba-tiba muncul keingingan untuk mengerjakan shalat. Masya Allah saya merasa nikmat dan tenang. Sejak itu saya tidak pernah berhenti mengerjakan shalat."

Begitulah jika Allah menghendaki, hati yang sudah tertutup, tiba-tiba terbuka kembali. Jangan pernah berputus asa dengan rahmat Allah SWT.
-----------------------
Dicopy dari tulisan Prof Yunahar Ilyas di www.republika.co.id

Sabtu, 09 November 2013

Tahun Baru 1435 H

Tidak terasa kita umat islam telah memasuki tahun baru Hijriah  1435 H. Rasanya  peringatan tahun baru hijriah ini kurang diingat, khususnya bagi umat muslim. Sesungguhnya momentum pergantian tahun ini sudah sepantasnya memberikan makna semangat baru untuk berbuat amal kebajikan, untuk  bekal menghadap sang Ilahi.  
 
Selain itu peringatan tahun baru ini memberikan  keyakinan bahwa waktu merupakan merefleksikan diri dalam kehidupan dunia yang akan dipertangungjawabkan di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Quran yang berbunyi artinya, “Adalah orang yang merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin dan hari esok lebih buruk dengan hari ini. Dan kamu akan termasuk kaum yang beruntung jika hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”

Pemahaman itu memberikan keyakinan bagi kita bahwa waktu bukan sekadar kumpulan angka-angka yang tertera pada jarum jam atau di kalender. Tetapi waktu adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kepada  Allah SWT, Sang Pemilik Zaman.

Memaknai pergantian tahun itu sebagai momentum perubahan budaya secara individual (ibda’ binafsih), keluarga dan masyarakat yang selama tahun sebelumnya mungkin masih ada kekurangan atau kealpaan, diarah lebih baik di masa mendatang. Perubahan ini bisa terjadi apabila setiap jiwa umat Islam mampu ‘menghijrahkan’ seluruh kekuatannya (pemikiran dan tindakannya) bagi kemajuan dalam kehidupan secara pribadi.

Perubahan yang dimulai dari rumah tangga dan dilanjutkan  melalui lembaga pendidikan akan membawa dampak positif sejalan dengan perkembangan. Semua itu harus dimulai dari sekarang sebagai menciptakan generasi  muda Islami yang mampu melakukan perubahan dalam kehidupan. Sebab sudah digariskan dalam Islam bahwa“Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya”.

Karena itu ada tidaknya perubahan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat sangat tergantung pada individu atau kelompok tersebut. Itu langkah minimal yang sejatinya dilakukan setiap muslim dalam memaknai pergantian tahun ini.
Intinya, Islam juga mengajarkan, bahwa hari-hari yang dilalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setiap Muslim dituntut untuk selalu berprestasi, yaitu menjadi lebih baik dari hari ke hari, begitu seterusnya.

Dengan keyakinan itu, maka orientasi kerja-kerja keduniaan yang selama ini kita lakukan patut kiranya di tahun 1435 H kita rubah berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan (ma’rufat) dan membersihkannya dari pelbagai kejahatan (munkarat).

Dalam hal ini, ma’rufat mencakup segala kebajikan (virtues) dan seluruh kebaikan (good qualities) yang diterima oleh manusia sepanjang masa, sedangkan munkaratmenunjuk pada segenap kejahatan dan keburukuan yang selalu bertentangan dengan nurani manusia.
Nilai kebaikan bisa diejawantahakn dengan bekerja berprinsip nilai kejujuran dan profesionalitas. Sikap jujur sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW agar dapat berperilaku yang baik dengan “menjauhi dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan membawamu ke surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pribadi yang jujur merupakan roh kehidupan yang teramat fundamental, karena setiap penyimpangan dari prinsip kejujuran pada hakikatnya akan berbenturan dengan suara hati nurani. Seperti contoh, para penyelenggara negara pada setiap aktivitas dalam rangka melayani masyarakat tentunya tidak menanggalkan prinsip kejujuran.

Dengan pemahaman itu, maka sepatutnya pergantian tahun baru Hijriah 1435  ini kita jadikan sebagai momentum mengubah diri menuju perubahan dalam segala bidang sebagai upaya penyatuan umat Islam Indonesia. Momentum hijriyah ini dinilai tepat untuk mengukit prestasi secara individu serta kelompok.
------------
Dikutip dari tulisan Dr HM Harry Mulya Zein di www.republika.co.id)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chitika

 

Buletin Hidayah Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger