Kamis, 14 Agustus 2014

Muhasabah Iman

Iman manusia bukan sesuatu yang konstan. Melainkan ia fluktuatif. Terkadang naik dilain waktu turun. Naik turunnya iman ini seiring dengan amal baik dan buruk yang dilakukan manusia. Semakin rajin bermaksiat maka semakin keras lah hati. Makin taat kepada ilahi Rabbi , makin terasahlah iman di hati.  Pergantian amal yang dilakukan manusia dan naik turunnya iman inilah yang kemudian menyebabkan seseorang mengalami suatu masa dimana membaca al Quran terasa pahit, mendirikan sholat tiada nikmat, bersedekah  terasa berat, menghadiri majelis ilmu malas, beramar ma’ruf tiada daya, ibadah apapun terasa hambar, tak semangat, lunglai dan tiada gigi untuk beraksi. Ada nasehat kebaikan ditolak, ada kalimah bijak disanggah, ada ajakan maksiat langsung acc.  Astagfirullah.

Adapun langkah yang bisa ditempuh dalam muhasabah iman ini adalah memahami gerangan yang menjadi tanda lemahnya iman itu. Kemudian dikroscek kan dengan kondisi diri masing-masing. Apabila diantara 10 hal berikut ada dalam diri kita maka sesungguhnya iman ini dalam kondisi lemah.

1. Terasa ringan melanggar aturan Allah swt.
Sikap meremehkan maksiat biarpun itu hanya berupa makan sambil berjalan, sesungguhnya itu adalah cikal bakal meremehkan maksiat yang lebih besar lagi. Akhirnya, perbuatan pacaran, korupsi, berbohong dianggap hal biasa sehingga dilakukan secara terang-terangan. Bila tanda ini ada dalam diri kita ingatlah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan” (HR. Bukhari.).

2. Enggan dan abai dalam beribadah.
Bila dalam diri ada rasa malas, enggan, abai, menunda-nunda kebaikan maka itu satu pertanda bahwa iman lagi melorot. Merasa tidak rugi dengan meninggalkan ibadah dan tetap santai alias berleha-leha dengan apa yang sedang dilakukan maka sungguh sadarlah bahwa iman sedang terinfeksi virus yang harus kita sadari.

3. Tidak khusyuk dalam ibadah juga tidak ikhlas menjalankannya
Apabila dalam sholat pikiran dan hati kita melayang-layang mengingat urusan dunia, membaca al Quran sekedar membaca, berdzikir hanya dibibir, bersedekah untuk meraih sanjungan manusia, berdakwah untuk meraih legitimasi manusia dan ibadah-ibadah lainnya yang konsentrasinya bukan ke Allah swt maka itu tandanya lemahnya iman. Maka ingatlah bahwa Nabi bersabda, “Allah tidak menerima doa dari orang yang hatinya lalai dan bergurau” (HR. Tirmidzi)

4. Mudah marah, sempit hati
Banyak hadist nabi yang memerintahkan kita untuk sabar. Dan Allah swt juga mengingatkan bahwa sesungguhnya Dia beserta orang-orang yang sabar. Namun ketika iman ini lemah maka seseorang akan cepet marah walau itu perkara sepele. Cepat marah ini diikuti oleh sikap susah memaafkan kesalahan orang lain, walau kesalahannya juga hanya kecil.
 
5. Sulit menangis dihadapan Allah swt
Orang yang lemah iman dalam suatu kondisi akan menghantarkan pada kerasnya hati. Ketika hati sudah tertutupi oleh noktah-noktah dosa maka ia akan sulit ditembus nur ilahi. Sehingga akan menjadikan sulit untuk meneteskan air mata walau dosa itu nampak didepan matanya.

6. Tiada perasaan marah dan benci saat syariat Allah SWT dilanggar
Ketika al Quran diinjak-injak orang kafir, nabi Muhammad saw dihina, para wanita pamer aurat dan kita tidak menampakkan “emosi” marah dan benci dengan maksiat itu maka tandanya iman ini lemah. Iman ini dipertanyakan. Bukankah selemah-lemahnya iman itu adalah mengingkari kemaksiatan? Jika pengingkaran ini saja tiada maka sebutan apa yang pantas untuk iman yang demikian?

7. Tiada sedih melihat musibah yang menimpa saudara seiman
Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhori)
Umat Islam mengetahui bahwa saat ini saudara kita di Gaza Palestin di bom bardir oleh roket, peluru dan rudal-rudal Israel laknatullah’alaih. Ratusan warga Gaza syahid.  Bila kita mendengar berita yang demikian namun tidak memiliki simpati dan empati sama sekali maka sungguh itu tandanya iman sedang lemah. Jika simpati dalam bentuk doa, infaq atau menyebarkan berita-berita terkait kondisi di sana ataupun kecaman tidak ada satupun yang kita lakukan maka betapa pantas iman ini mendapat gelar iman yang sakit.

 8. Tiada perhatian dengan kondisi umat Islam
Perasaan dingin, cuek terhadap penderitaan, penindasan, musibah, bencana, ynag dialami umat Islam diseluruh belahan dunia adalah petunjuk bahwa iman ini lemah. Konsentrasi perhatian hanya pada kepentingan pribadi, kesejahteraan diri sendiri, kedamaian diri pribadi, ketenangan dan kedamaian diri sendiri maka berhati-hatilah bahwa itu tandanya iman kita lemah. Bukankah Nabi Muhammad saw dalam sebuah sabdanya menyebutkan bahwa umat Islam laksana satu tubuh. Bila ada bagian tubuh yang sakit maka seluruh badan ikut merasakan sakit. Demikian pula seharusnya umat Islam saat ini. Ketika ada saudara kita dibelahan bumi lain tertindas maka seharusnya kitapun ikut merasakan penderitaan mereka.

9. Tiada merasa bertanggungjawab terhadap dakwah dan urusan agama ini
Inilah tanda lemahnya iman berikutnya, yaitu menyerahkan beban dakwah kepada orang lain semisal kyai, ustad, atau guru agama. Sehingga tumpullah lidahnya dari amar ma’ruf. Tapi tajam dalam urusan duniawi. Seolah sudah cukup dengan menyerahkan beban agama ini pada sang kyai. Akankah menunggu hadirnya kyai untuk menasehati rekan kerja yang melanggar syariat Allah swt dkantor? tentu iman yang hidup akan menjawab “tidak”. Tapi lain lagi bagi iman yang lagi yankus (turun) maka ia akan tenang mengadopsi pemikiran bahwa dakwah tugas Kyai.

10. Over dosis dalam mencintai dunia
Dunia yang Allah swt ciptakan dengan segala keindahan dan kenikmatannya telah menjadikan sebagian orang beriman overdosis dalam mencintainya. Hidupnya digantungkan pada dunia. Siang malam mengurusi urusan dunia untuk memenuhi kebutuhan perut. Bila diberi nikmat menyombongkan diri. Bila diberi ujian cepat putus asa dan sempit hati. Inilah tanda iman yang sakit.

Setidaknya 10 inilah tanda-tanda iman yang sedang sakit, lemah dan harus diobati. Mari muhasabah iman dnegan memperhatikan 10 tanda di atas. Apabila ada diantaranya pada diri kita, maka mari segera dibenahi dengan mendekat kepada Allah swt dan mengemis cintaNya. Iman ini harus senantiasa dijaga. Allah swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan beragam Islam” (QS. Ali Imran.  103).Semoga kita bisa meraih sebenar-benar takwa ini. Aamiin, waallahua’lam.
---------------
Dikutip dari tulisan Nadiyah el Haq di www.eramuslim.com (tulisan diedit)

Minggu, 25 Mei 2014

Belajar dari Dua Kuda

Alkisah, seorang pedagang mempunyai dua ekor kuda. Kuda tersebut dimanfaatkan untuk membawa barang dagangan. Seekor kuda membawa garam dan yang lainnya membawa kerang.

Ketika mereka melewati sebuah danau, kuda pembawa garam turun ke danau untuk menghilangkan rasa haus. Ketika sang kuda keluar dari danau, dia terlihat segar bugar.

Kuda pembawa kerang terheran-heran dan bertanya, “Hai teman, apa yang terjadi kepadamu? Mengapa kau terlihat begitu segar bugar?”

Kuda pembawa garam berkata, “Ketika aku turun ke danau, awalnya aku tak merasakan apa-apa sampai aku merendam tubuhku di  dalamnya. Saat itu, aku merasa berat garam di punggungku meleleh bersama air danau. Saat keluar, aku merasa begitu ringan dan segar.”

Tanpa berpikir panjang, kuda pembawa kerang pun turun ke danau berharap mendapatkan kesegaran seperti kuda pembawa garam.

Sang kuda merendam tubuhnya dan meminum air danau sepuasnya. Tanpa ia sadari, kerang yang dibawanya terisi air. Saat keluar dari danau, ia tidak merasa segar, justru sebaliknya merasa semakin berat.

Saudaraku, itulah gambaran sebuah kehidupan. Terkadang kita sering mengikuti apa yang dilakukan orang lain tanpa menimbang manfaatnya bagi diri kita. Bukankah Allah SWT telah memberikan petunjuk akal bagi manusia guna membedakan yang haq dan yang batil?

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS at-Tin: 4). Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk Allah yang sempurna. Allah menyempurnakan manusia dari bentuk dan petunjuk-Nya.

Allah SWT menciptakan manusia dengan bentuk yang indah. Kemudian, Allah SWT menyempurnakannya dengan empat petunjuk, yaitu insting, pancaindra, akal pikiran, dan agama. Lalu, mengapa manusia tidak memanfaatkan keempatnya untuk mencapai kebahagiaan hidup?

Sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu akan bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan orang yang suka mengikuti orang lain tanpa alasan yang jelas, mereka itulah sebodoh-bodohnya manusia
=============
Tulisan Robiatul Adawiyah di www.republika.co.id

Kamis, 24 April 2014

Polos, Peluang untuk Berwarna

Lembaran kertas putih merasa tak nyaman ketika baru saja keluar dari pabrik. Ia merasa bingung dengan kenyataan dirinya. Tidak ada garis, tulisan, atau warna apa pun kecuali putih. Tapi, wujudnya berbentuk buku seperti yang lain.

“Kok aku beda?” tanya si buku polos ke lembaran buku tulis yang lain. “Beda?” sergah salah satu buku tulis bergaris. “Iya. Coba perhatikan, kamu tercetak dengan garis-garis teratur. Ada yang kotak-kotak. Yang lainnya lagi bahkan ada yang tertulis dengan huruf berwarna disertai kartun lucu,” ucap buku polos bersemangat. “Sementara aku? Boro-boro kartun lucu, satu garis pun tak ada yang hinggap!” tambah si buku polos menggugat.

“Jadi, kamu tak terima?” tanya buku bergaris teratur, lembut. “Tentu saja! Ini tidak adil!” sergah si buku polos begitu spontan.

Semua terdiam. Semua jenis buku tulis mulai ambil jarak dengan buku polos. Mereka khawatir kalau ketidakpuasan bukan sekadar gugatan, tapi berubah jadi tindakan. Hingga…

Seorang anak manusia mengambil buku polos dengan tangan kecilnya. Lembaran buku tak bergaris dan berwarna itu pun dipandangi sang anak begitu tajam. Entah apa yang dilakukan, beberapa menit kemudian, buku polos itu tak lagi putih sepi. Ia sudah berubah menjadi halaman penuh warna. Ada goresan merah, hijau, biru, kuning, dan berbagai perpaduan warna lain.

Ketika buku itu ditinggalkan sang anak, beberapa buku lain datang menghampiri. Semua terperanjat. Karena lembaran yang semula polos, kini berubah menjadi bentuk lukisan penuh warna. “Aih indahnya!” gumam semua buku tulis begitu kagum.

Saat itulah, sang buku polos sadar. Selama ini, ia salah. Kepolosannya tanpa garis bukan bentuk penghinaan terhadap dirinya. Bukan juga ketidakadilan. Tapi, karena ia akan menjadi wadah berbagai goresan warna seni yang akan membentuk karya indah. “Ah, aku ternyata buku gambar!” ucap si buku polos akhirnya.
**

Hidup ini penuh warna. Hampir tak ada yang sama pada ciptaan Allah. Walaupun, masih sama-sama manusia. Ada yang kaya, cukup, dan kurang. Ada yang cantik, tampan; ada pula yang biasa saja. Ada yang berhasil dan sukses, tidak sedikit yang merasa gagal.

Tidak jarang, seorang anak manusia mengambil pandangan dari sudut yang sempit. Bahwa, kegagalan adalah sebuah ketidakberdayaan. Bahwa, belum tampaknya peluang-peluang berkarya adalah ketidakadilan. Hingga, jauhnya jodoh buat para lajang merupakan sebuah hukuman.

Cermati dan pelajari. Karena boleh jadi, di balik kegagalan ada rahasia kesuksesan. Di balik sempitnya peluang, ada ujian kemampuan. Di balik lajang yang berkepanjangan, ada pendidikan kemandirian. Dan di balik kertas polos, ada peluang warna-warni keindahan goresan kehidupan.
---------------------
Sumber tulisan dikutip dari : www.eramuslim.com

Rabu, 19 Maret 2014

Terima Kasih atas Ketidaknyamanan ini, Wahai Yang Maha Sayang

Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka.
Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka seperti sudah menjadwalkan kalau hari itu butiran-butiran jagung lezat akan berserakan seusai panen petani.
“Ah, sebuah tempat yang begitu mengasyikkan,” bisik hati seekor burung dara muda yang juga tak mau ketinggalan. Dan, mereka pun mulai mengepak-ngepakkan sayap masing-masing untuk siap terbang.
Sayangnya, sebatang dahan kering tiba-tiba terjatuh dan tepat menimpa si burung dara muda. “Aduh!” teriak sang burung spontan.
Dahan patah yang terjatuh dari ketinggian itu tepat menimpa sayap kanan sang burung. Ia pun merintih kesakitan.
Semua burung yang lain sudah terlanjur terbang meninggalkan si burung dara muda yang masih di depan sarang. Begitu bersemangatnya mereka terbang, hingga lupa kalau salah satu saudara mereka masih tertinggal di pintu sarang.
Kini tinggallah si burung dara muda merintih kesakitan. Beberapa kali ia mencoba terbang, tapi sayapnya yang luka masih nyeri untuk digerakkan. ”Ah, mungkin sayap kananku patah!” keluh sang burung masih membayangkan tempat indah yang mungkin kini sedang dinikmati saudara-saudaranya.
Dalam kesendirian itu, ia sempat bergumam, ”Tuhan, kenapa kau timpakan ketidaknyamanan hanya buatku seorang.”
Selama beberapa jam ia menunggu kepulihan sayapnya agar bisa terbang. Tiba-tiba, seekor burung dara menukik tajam dan nyaris menabrak sarang di mana si burung muda beristirahat. Ia pun kaget ketika mendapati salah seorang saudaranya sudah berada persis di depannya dengan beberapa luka di bagian pangkal kaki dan dada.
“Ada apa, saudaraku?” ucap si burung dara muda sambil memeriksa luka saudaranya. “Mana yang lain?” sambungnya.
Dengan tertatih-tatih, saudara burung itu pun berujar pelan. ”Semuanya tertangkap jebakan manusia. Hanya aku yang berhasil kabur,” ucap sang burung sebelum akhirnya terkulai.
Saat itu, si burung dara muda pun tercenung. Ia seolah bingung, apakah dengan kondisi patah sayapnya itu ia sedang diberikan ketidaknyamanan oleh Tuhan, atau sebaliknya.
**
Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita. Bisa berupa gagal karir karena musibah, putus pendidikan karena biaya, gagal berjodohan karena sesuatu hal, dan sebagainya.
Nurani kemanusiaan kita pun seperti berontak untuk akhirnya mengatakan, “Tuhan, kenapa Kau timpakan ketidaknyamanan ini buatku seorang?”
Kalau saja ada kemampuan mata kita untuk melihat ujung perjalanan waktu yang akan kita alami, kalau saja kita bisa mengintip dari celah tirai hikmah hidup yang akan dilalui, mungkin hati dan lidah kita akan berujar, ”Terima kasih atas ketidaknyamanan ini, wahai Yang Maha Sayang!”
------------------------
Dikutip dari www.eramuslim.com

Minggu, 09 Maret 2014

Jumatan di Singapura

Kamis malam tiga minggu lalu kaki ini untuk pertama kalinya menjejakkan diri di tanah negara singaputih Singapura, Setelah terbang dari jakarta menuju batam, dilanjutkan perjalanan laut dri pelabuhan Batam Center ke Harbourfront Singapura. Telah terlihat kilauan cahaya lampu gedung-gedung tinggi diseberang sana. Dalam hatiku bertanya seperti apakah negeri Singapura yang banyak dikatakan sebagai Israel-nya Asia.

Satu jam perjalanan dari Pelabuhan Batam Center menuju Harbourfront. Kapal Feri merapat, pemeriksaan terlewati. Seorang petugas berbahasa melayu memudahkan proses imigrasi. Kemudian kaki ini menuju pintu keluar pelabuhan. Dengan escalator menuju ke atas terus naik mengikuti tuntunan tanda exit. Tak lama kemudian tubuh ini telah keluar dari harbourfront. Alangkah kagetnya, “Subhanallah”, ternyata saya baru keluar dari sebuah mall megah yang dibawahnya adalah pelabuhan besar. Benar-benar detail dan terkonsep pelabuhan Harbourfront ini.

Di pinggir jalan kulihat antrian manusia, bukan menunggu bis tapi menunggu Taksi. Begitu teratur dan disiplin. Satu-satu mereka menaiki taksi. Aku terus melangkah ke pinggir jalan.

Tujuanku adalah Masjid Tumenggung, masjid milik kerajaan Malaysia untuk menemui teman yang siap menjemputku tepat di depan Pelabuhan Harbourfront atau Mall megah ini, entah apa yang harus disebut pelabuhan di dalam mall. Sekali lagi aku seperti seorang urban yang baru saja pergi ke kota besar. Padahal saya lahir di Jakarta yang disebut kota metropolitan. Jadi berpikir kalau jakarta adalah kota metropolitan, maka Singapore akan kusebut Super Metropolitan karena begitu teratur dan terkonsep.

Saya tidak akan bercerita tentang kota Singapura yang penuh dengan keta’atan penduduknya dengan sistem yang telah dibuat. Tetapi lebih kepada keberke sanan ketika melaksanakan Sholat Jumat di tiga masjid Singapura. Setiap Jumat teman selalu mengantar menuju masjid. yang terdekat adalah Masjid Tumenggong. Saya tergopoh menuju tempat wudhu, tetapi teman saya mengajak ke sebuah serambi di belakang masjid. Saya benar-benar tak tahu maksudnya.

“Kita makan dulu sebelum Jumatan.” Agak kaget sejenak, benarkah ada makan siang sebelum jumat di masjid ini. Lalu barisan meja dan bangku panjang dengan jamaah yang mengantri untuk makan siang kian memadati ruang tersebut. Saya berbisik ke teman, “Andai di Indonesia seperti ini pasti menjadi sarana dakwah yang luar biasa.” “Pastinya masjid akan ramai selalu dengan jamaah pastinya”, teman membalas bisikan saya. Melayu, India, Chinesse bersama melahap makan siang yang telah disediakan pengurus masjid.

Apakah masjid ini tidak bangkrut bila terus menyediakan makan siang seperti ini. Pertanyaanku terjawab saat pengurus masjid menyampaikan laporan keuangan amal masjid yang setiap minggu mendapatkan amal dari jamaah sampai kisaran S$3000-S$5000. Subhanallah jumlah yang fantastis. Keberkesananku dalam 3 Jumatan di masjid Singapura. Semoga Indonesia akan sama seperti masjid-masjid di Singapura. Amin.

Seusai sholat Jumat di Masjid Al-Makmur Woodlands Ave, Singapura.
Tulisan Yayan Supardjo di www.eramuslim.com

Selasa, 11 Februari 2014

Tahun Ini Tidak Ada Valentine Lagi

Tahun itu Nero menjadi mualaf. Begitu pesan tertulis di messangerku dari seseorang negara nun jauh di sana. Saat itu 1 Muharam 1429 H, atau tanggal 10 Januari 2008 M, Nero mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan puluhan mualaff di Masjid Islamic Cultural Center, New York.

Aku Jadi ingat kira-kira kilas balik  yang lalu, ketika pesawat kami tertunda di Bandar Seri Begawan dan kami harus menunggu keberangkatan hingga malam itu menuju Shardjah, Emirat Arab. Kami harus menunggu cukup lama di Brunai. Bagiku ini perjalanan yang cukup melelahkan. Pagi-pagi sekali kami terbang dari Balikpapan menuju Jakarta, kemudian siangnya kami melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Brunai Darusalam, karena kami akan berganti pesawat menuju Shardjah dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jeddah.

Dia melihatku dengan wajah begitu kelelahan. Kemudian dia menyapaku, Are you from Indonesia? Sapanya. Yup, jawabku. Hai, saya Nero, mau ke mana? Tanyanya dengan bahasa Indonesia yang masih terdengar aksen inggrisnya. Ke Jeddah. Jawabku lagi. Oh…gumamnya. Saya mau Tanya, apa itu casing yang kamu pakai? Tanyanya sambil menunjuk jilbab panjang yang aku kenakan. Oh, ..this is jilbab, kami bilang jilbab or kerudung..jawabku. Oh. I see..jawabnya.

Kami memulai pembicaraan dengan panjang lebar. Dia tertarik dengan busana muslim yang aku kenakan. Dia kagum dengan orang-orang melayu, mengenakan busana yang serba tertutup dengan iklim tropis yang notebenenya sangatlah panas.

Nero, blasteran Jawa – Jerman. Nama lengkapnya Nero Narianto Stocholm. Nama Nero diambil dari raja Nero yang dikenal sebagai ‘pembakar’ kota Roma, Narianto diambil dari kata penari (ibunya penari Jawa dan masih mengabdi di keraton Jogjakarta). Stocholm adalah nama akhir ayahnya, yang berasal dari Berlin, Jerman. Wajah indonya sangat kental, nuansa Jerman, terutama hidungnya sangat jelas kalau dia adalah blasteran. Dia tinggal di New york bersama adiknya. Kedua orangtuanya masih menetap di Jakarta dan ibunya masih sering mengajar nari di Jogja. Saat itu dia sedang mempelajari Islam.

Hari itu dia hendak berangkat menuju Jeddah bersama rombonganku. Menurutnya, dia akan bertemu dengan syaikh yang selama ini menjadi gurunya di Madinah, saat itu Nero masih memeluk agama Nasrani. Sebelum memeluk Nasrani, Nero berpindah-pindah agama, berawal dari seorang atheis, yang kemudian berusaha mencari jati dirinya, kemudian berpindah menjadi seorang Yahudi dan Nasrani.

Ada pertanyaannya yang mungkin membuatku terhenyak dan mungkin bagi kita semua akan berfikir lama untuk menjawab. Mengapa kamu memilih untuk memeluk agama Islam apa karena ayah-ibumu Islam? Dan mengapa kamu disebut muslimah? Sebuah pertanyaan sederhana tetapi bagiku membutuhkan perjuangan besar untuk menjawabnya. Bagi Nero, yang ibunya beragama Islam, dan ayahnya yang beragama nasrani. Tidak mudah memantapkan hati pada satu agama, tapi jika kita tidak yakin dan menjalankan dengan baik agama yang sekarang kita anut. Cukup lama dia menjadi atheis, kemudian menjadi penganut Yahudi dan terakhir memilih nasrani. Tetapi tidak ada kemantapan hati dan beribu pertanyaan yang selalu singgah dalam hatinya.

Saya tidak bisa menjalankan karena mengikuti orang tua, saya harus yakin, karena mencari Tuhan itu sungguh luar biasa, alasannya. Ketika aku bertanya mengapa dia tertarik mempelajari Islam. Saat ini saya sedang mempelajari Islam, Karena sampai hari ini, yahudi ataupun nasrani tidak membuat saya yakin, dan saya sungguh benar-benar kagum dengan kebersamaan umat muslim di Jakarta ketika sholat, mereka tidak melihat siapa yang berada di depan, yang berada di depan adalah mereka yang terlebih dahulu bergerak mendengar adzan waktu masuk sembahyang. tidak membedakan mana yang kaya dan miskin.

Dia mempelajari Islam setelah dia bertandang ke rumah orang tuanya di Jakarta setahun yang lalu, ketika itu ibunya meletakkan terjemahan al-quran diruang keluarga, dan Nero penasaran dengan isi al-quran, karena di Amerika agama pemilik kitab suci ini difitnah sebagai agama orang teroris. Betapa terkagum-kagumnya dia begitu membaca isi Al-Quran, bahasanya, dan perintah-perintah yang halus dari Tuhan untuk manusia.

Sejak itu Nero, berusaha mengikuti pengajian di Jakarta ataupun di New York, terkadang dia juga mengambil bahan-bahan dari situs-situs Islam.

9 jam berlalu, tidak terasa perjalanan jauh telah kami tempuh. Pesawat kami transit beberapa menit di Shardjah, Uni Emirat Arab dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah.

Kemudian, 2 jam setelah itu kami tiba di Jeddah. Kami tiba tepat pukul 4.00 pagi waktu Jeddah, atau kira-kira pukul 9 waktu Jakarta.

Setelah perwakilan travel mengumpulkan rombonganku, Nero memisahkan diri dari kami, maybe tomorrow I’ll go to Madinah, insyaAlloh. today I meet my friend from India, he’s a student of Universitas Islam Madinah. Nice to meet you, I like your Jilbab, I like discuss with you, ..see you next time. Nero berpamitan dan kemudian menghampiri temannya yang berasal dari India.

Hidup itu pilihan, Nero sudah membuktikannya, aku bisa mengerti mengapa dia memilih jalannya saat ini. Karena Alloh menunjukkan kepada kita, mana jalan yang baik dan mana jalan yang salah, setelah itu tinggal kita yang memilih. Dan dari Nero juga aku belajar, menjadi seorang Muslim itu bukan berawal karena orang tua atau karena kita dilahirkan dengan kondisi lingkungan yang muslim, tapi karena kita yakin dan kita sanggup untuk menjalankannya.

Apa pernah kita bercermin pada diri sendiri, seandainya orangtua kita tidak beragama muslim? Pasti kita memilih apa yang dipilihkan oleh orang tua kita. Menjadi muslim bukan hanya ‘label’ semata, tapi harus adanya keyakinan dan kepercayaan serta kesanggupan untuk menjalaninya. Banyak dan banyak sekali umat muslim yang mengaku beragama Islam, tetapi perilaku dan kegiatannya tidak mencerminkan keIslamannya. Banyak yang mengaku Islam dan faham akan hukum-hukumnya, tapi banyak pula yang melanggar bahkan berani meninggalkan kewajibannya untuk sholat.

Terkadang kita merasa sebagai muslim, tetapi kita tidak peka dengan keadaan saudara kita sesama muslim. Kita bahkan menutup pintu rapat-rapat untuk membantu mereka, kita sering mempercayai sesuatu daripada kita percaya dengan takdir Alloh, kita sering lalai menjalankan sholat 5 waktu, kita lebih sering curhat pada manusia daripada beroda dan mengadu kepada Alloh, kita sering meninggalkan Al-Quran sebagai pegangan hidup kita dan memilih Koran atau kertas kerja sebagai bahan referensi hidup kita, kita sering mengejek saudara-saudara kita yang berdakwah daripada mendengarkan isi dakwahaannya, kita sering tidak memaafkan kesalahan saudara kita daripada kita bersilaturahmi. Bagaimana kita bisa disebut muslim?

Nero, How bout your V’day 14th Feb? Tanyaku ke Nero via messanger, yang memang menjadi wadah diskusi jarak jauh kami. Dan jawabannya membuat aku tersenyum sendiri…Sorry my dear, This year I wasn’t to celebrated V’day, coz I’m a muslim now…how bout u? Tanyanya lagi. this is a big job. This is our duty to got Islam Kaffah, …keep on and go on your dakwah, …

Ya, keep on our dakwah, karena ini adalah amanah – Nya. He has a Islam, …Nero is my brother now.

(especially dedicated to Nero Narianto. thanks to give me inspiration, semoga Alloh mempertemukan kita lagi dalam ibadah yang ikhlas)
-------------------------
Dicopy dari tulisan Rini Diana Setyawati di www.eramuslim.com

Rabu, 18 Desember 2013

Inilah Kesalahan Para Orientalis Barat Dalam Memahami Alquran

Alquran adalah Firman Allah SWT yang memiliki ciri-cirinya sendiri sebagai teks suci. Yang berbeda dengan ciri-ciri umum sebuah buku karangan manusia. Di antara ciri-ciri yang hanya dimiliki Alquran antara lain:

Pertama, Alquran menggunakan bahasa Arab, yang tidak hanya menulis alphabetnya dari kanan ke kiri, tapi juga menulis angka numeriknya dari kiri ke kanan.

Kedua, Alquran mengatur penulisan teksnya, tidak berdasarkan urutan turunnya ayat atau surahnya, tetapi berdasarkan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW Utusan-Nya.

Ketiga, Alquran menggunakan kata ganti untuk Diri Allah SWT, tidak hanya menggunakan kata ganti Saya (Ana), tapi juga menggunakan kata ganti Kami (Nahnu)  dan Dia (Huwa).

Keempat, Alquran menggunakan gramatika bahasa, yang dalam struktur kata atau ayatnya, tidak hanya bisa merujuk pada makna kata atau makna ayat sebelumnya (di belakangnya), tapi juga bisa merujuk kepada makna kata atau ayat sesudahnya (di depannya).

Kelima, Alquran menyampaikan pesan tauhid sebagai pesan intinya, tidak hanya menggunakan pendekatan deskriptif, tapi juga pendekatan matematis dalam struktur bangunan ayat dan surahnya.

Keenam, Alquran menyampaikan keseluruhan deskripsi kandungan isinya, tidak hanya  dalam 114 surah, tapi juga menyampaikan deskripsi keseluruhan isinya dalam  kapsulasi satu surah.

Ketujuh, Alquran dalam menguraikan pesan  tauhid, tidak hanya dengan menggunakan sebanyak 323.671 huruf, tapi juga menyampaikan pesan tauhid itu dalam kondensasi satu huruf.

Kedelapan, Alquran tidak hanya dapat dibaca dan dipahami makna ajaran yang dikandungannya, tapi juga dapat dihafal keseluruhan teksnya yang terdiri dari 114 surah, yang dicetak dalam sekitar 700 halaman.

Kesembilan, Alquran tidak hanya dapat dilombakan dalam penguasaan kandungan maknanya, tapi juga dapat dilombakan dalam penguasaan keindahan nada bacaannya.

Kesepuluh, Alquran bila dipelajari dengan niat yang tulus dan jujur, tidak hanya akan memperoleh pemahaman tentang makna  pesan-pesan yang dikandungnya, tapi juga akan mendapatkan hidayah keimanan, sehingga menjadi Muslim setelah memahaminya.

Kesebelas, Alquran tidak hanya memerintahkan manusia untuk berpikir tentang keseluruhan sistem kehidupan ciptaan-Nya, tapi juga memberikan contoh pendekatan sistem dalam menguraikan detil pesan-pesannya.

Itulah di antara ciri-ciri yang khas dimiliki Alquran, firman Allah SWT, sebagai petunjuk bagi kehidupan seluruh umat-Nya. Karena itu, siapa saja yang ingin mempelajari Alquran secara serius dan mendalam, perlu menyadari terlebih dahulu bahwa Alquran adalah sebuah Buku Bacaan yang khas (unik) dilihat dari pengaturan penulisan, bahasa, komposisi, ketelitian, tema, isi, penyampaian, keaslian, kesucian dan dampak yang ditimbulkannya.

Sehingga, perlu menyadari sejak awal, bahwa berpegang pada konsep sebuah buku biasa yang dipahami selama ini, tidak akan menolong. Bahkan boleh jadi akan menghambat, untuk pencapaian pemahaman yang utuh dan benar tentang kandungan Alquran.

Dan di sinilah letak kesalahan mendasar dari para orientalis Barat dalam memahami makna Alquran, selama ini. Mereka (para orientalis) mempelajari Alquran sebagai sebuah buku biasa, dengan ciri-ciri buku pada umumnya yang mereka pahami. Maka, hasil studi mereka sudah dapat diduga, bukanlah suatu pemahaman yang benar tentang kandungan Alquran.

Bahkan sangat disesalkan, tanpa mereka sadari dan mau mengerti, apa yang dihasilkan para orientalis adalah kesimpulan-kesimpulan dan kritik-kritik yang salah, sehingga menyesatkan orang banyak tentang Alquran.
          
Maka, untuk mempelajari dan memahami kandungan makna Alquran, perlu diawali dengan pendekatan dan niat yang tulus dan jujur. Ketulusan dan kejujuran dalam berusaha memahami secara optimal ilmu dan hikmah yang dikandung Alquran, dengan memosisikan Alquran secara benar, yaitu sebagai kitab suci, firman Allah SWT. Karena tidak ada yang mengetahui secara persis kandungan ilmu dan hikmah Alquran, selain Allah SWT sendiri.

Tugas kita adalah berupaya optimal agar pemahaman kita bisa mendekati makna yang sesungguhnya. Dengan tujuan agar ilmu dan hikmah Alquran yang kita pahami, dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas zikir dan syukur, shalat dan doa kita, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Allah ‘Alamu Bishshawab

----------------
Tulisan Oleh DR M Masri Muadz MSc (Penulis Buku Paradigma Al-Fatihah) di www.republika.co.id
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chitika

 

Buletin Hidayah Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger