Sabtu, 18 Mei 2013

Lemparan Batu

Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang
pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!”
Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan
batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”

Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk
mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatanmu.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih
nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia
memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat

“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

***

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat,
sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu
hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.
----------------------------------------------------
Kiriman Sahabat Andre Hafid ZA - Jakarta
Sumber : www.resensi.net

Sabtu, 11 Mei 2013

Kiat Seseorang Menghindari Permulaan Maksiat

Sebelum kita telusuri lebih dalam tentang maksiat dan cara menghindarinya alangkah baiknya terlebih dahulu jika kita mengerti apa itu maksiat. Secara hakiki maksiat adalah perbuatan durhaka kepada Allah. Allah SWT berfirman: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab 36). Perbuatan maksiat erat kaitannya dengan nafsu, jika kita tidak bisa mengendalikan nafsu, maka nafsulah yang akan mengendalikan kita. Disini akan saya bagi menjadi 4 hal untuk menghindari permulaan maksiat.

Pertama adalah pandangan. Menjaga pandangan adalah pokok utama dalam menjaga nafsu syahwat manusia. Pandangan manusia dapat menjadi pemicu awal terjadinya maksiat. Barang siapa yang tidak bisa menjaga pandangannya maka dia sama saja menjerumuskan dirinya sendiri menuju jurang kebinasaan. Di dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Rasulullah : "Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai hari kiamat". Oleh sebab itu seorang muslim dituntut untuk selalu menjaga pandangannya setiap saat. Apabila tidak sengaja terlintas didepan mata seorang wanita yang mungkin tidak bisa menjaga auratnya, sebisa mungkin kita berusaha untuk membuang pandangan kita, kalaupun kita melihat hanya sepintas tidak apa-apa, karena pada pandangan pertama tidak mengandung dosa melainkan ketidak sengajaan.

Kedua adalah pikiran, pikiran yang melintas dibenak dapat membuat segala urusan menjadi lebih sulit. Karena didalam pikiran tempat dimulainya perbuatan yang baik atau buruk. Didalam pikiran pulalah tempat lahirnya keinginan yang akhirnya berubah menjadi tekad yang kuat, oleh sebab itu siapapun yang dapat mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas dibenak, maka dia dapat mengendalikan dirinya dan menundukkan nafsunya. Tetapi bila seseorang yang tidak dapat mengendalikan pikiran yang melintas dibenaknya maka hawa nafsulah yang akan menguasai dirinya. Maka dari itu janganlah meremehkan pikiran-pikiran yang melintas dibenak agar kita tidak terserek menuju kebinasaan.

Ketiga adalah terlalu lama berdiam diri (menganggur). Terlalu lama berdiam diri terlebih dengan pikiran kosong dapat menyebabkan terbesit pikiran-pikiran yang dapat mengarahkan kita kepada kemaksiatan, apalagi jika iman kita lemah. Syetan akan sangat mudah membisikkan pikiran-pikiran kotor kepada orang yang sering berdiam diri atau bermalas-malasan. Oleh sebab itu kita sebagai mahasiswa jangan biasakan diri kita bermalas-malasan. Rencanakanlah waktu luang anda dengan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat, karena Syetan juga telah merencanakan sesuatu terhadap diri anda. Dengan menyibukkan diri maka kita akan terhindar dari pikiran-pikiran yang bisa menyebabkan kemaksiatan. Tetapi dengan menyibukkan diri bukan berarti kita juga lupa dengan beribadah kepada Allah. Walaupun kita sesibuk apapun, kita tidak boleh lupa beribadah kepada Allah. Dengan beribadah kepada Allah dapat menghilangkan pikiran stres akibat sibuknya kita terhadap hal-hal yang berbau duniawi.

Keempat adalah pacaran. Diantara yang sangat memprihatinkan menimpa generasi muda adalah budaya “pacaran” yang sudah dianggap hal biasa karena pengetahuan agama Islam yang sangat kurang. "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek". (Q.S. Al Israa': 32). Dalam tafsir Kalamul Mannan, Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'di berkata: "Larangan Allah untuk mendekati zina itu lebih tegas dari pada sekedar melarang perbuatannya, karena berarti Allah melarang semua yang menjurus kepada zina dan mengharamkan seluruh faktor-faktor yang mendorong kepadanya.” Dari dalil yang sangat jelas diatas, Zina itu adalah suatu jalan yang buruk dan keji, termasuk ke dalam salah satu dosa besar. Sedangkan mendekatinya saja sudah jelas-jelas dilarang dan diharamkan dalam Al-Qur’an yang merupakan firman Allah langsung, apalagi jika melakukan zina . Pintu-pintu yang mengarah kepada perbuatan maksiat ini dengan tegas ditutup tidak boleh dibuka sama sekali. Dan diantara pintu zina yang terlebar kepada upaya mendekati zina adalah berdua-duaan dengan lawan jenis yang non mahrom alias dizaman modern ini disebut pacaran. Oleh sebab itu kita sebagai remaja muslim diusahakan untuk bisa menahan diri sebisa mungkin untuk bisa menahan hawa nafsu dengan berpacaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika kita berpacaran, bukan berarti kita mencintai pasangan kita, melainkan kita mengajak pasangan kita untuk sama-sama menanggung dosa yang dapat menjerumuskan ke neraka.

Dari keempat hal diatas dapat kita renungkan apakah sudah semuanya kita jalani apa belum untuk mengukur seberapa besar ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Usahakan dalam hidup ini untuk sesibuk mungkin beribadah atau bekerja, jangan biarkan kita tidak bisa mengatur waktu luang kita. Selain itu juga usahakan kita untuk tidak berpacaran. Jika kita sudah tidak bisa menahan hawa nafsu, lebih baik langsung saja melangsungkan pernikahan, tetapi dengan syarat kita sudah mapan tentunya, kalau belum ya kita usahakan menahannya dulu. Mungkin bagi orang yang tidak terbiasa berpacaran akan sulit hidup tanpa pacaran, memang untuk melakukan suatu perubahan harus ada paksaan terlebih dahulu pada diri kita dengan tekad yang kuat, baru setelah itu kita akan terbiasa, justru tanpa berpacaran akan membuat kita semakin bisa memaknai arti kesendirian, membuat kita semakin kuat tahan banting terhadap cobaan apapun, belajar memaknai arti kehidupan, tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

(dikutip dari berbagai sumber)

---------------------

Tentang penulis:

Nama          : Bagus Malik Alwi

Alamat        : Temon, Kulon Progo

Sekolah       : Elektro, FT UNY

-------------------------

Terimakasih kepada sahabat Bagus Malik Alwi atas kiriman artikel nya ke email kami

Jumat, 03 Mei 2013

Fenomena Fatin Shidqia dan Gejala Kompromi Fikih

BEBERAPA saat lalu salah seorang petinggi Majelis Ulama Indonesia melayangkan sebuah surat kepada kontestan acara televisi X Factor Indonesia yang sedang naik daun, Fatin Shidqia Lubis. Dalam surat nasihat itu, salah satu ketua MUI mengingatkan Fatin agar konsisten dengan jilbabnya dan tidak sekalipun melepas jilbabnya walaupun sibuk dalam karir musiknya. Ia menulis, “Pada suatu saat Fatin akan dihadapkan pilihan jilbab atau karir. Misalnya, akan ada yang membisikkan Fatin dengan kalimat, ‘Kalau mau menang, jadi juara satu, kamu harus lepas jilbab’. Bapak pesan sekali-kali jangan jual akidahmu demi karir duniawi”.

Gayung bersambut, Fatin yang masih duduk di bangku SMA itu pun mengatakan bahwa dirinya merasa senang mendapatkan surat tersebut. Maka ia pun meyakinkan publik bahwa ia tidak akan melepas jilbabnya sebagaimana dipesankan oleh sang tokoh.

Perempuan Boleh Nanyi, Asal...

Fatin Shidqia memang menjadif fenomena. Bukan hanya ia dinilai publik memiliki suara dengan “standar internasional”, namun juga karena ia menjadi satu-satunya dan pertama kalinya kontestan perempuan ber’jilbab’ (baca : kerudung) untuk kontes X Factor dan bahkan acara-acara sejenis.

Sebagian pemirsa televisi yang memiliki sedikit ghirah dalam diin tentu merasa lega sekaligus bangga lantaran ada muslimah berkerudung yang berani mempertahankan penutup auratnya itu dalam kontes-kontes yang notabene panggungnya selama ini dikuasai golongan hedon, mereka yang senantiasa mengumbar aurat dan keindahan tubuh demi popularitas. Barangkali, penilaian yang dapat menyamai fenomena itu pernah terjadi ketika Siti Nurhaliza, biduwanita dari negeri jiran sempat menuai ketenaran di Tanah Air dengan busananya yang relatif lebih sopan sementara pada saat yang sama penyanyi-penyanyi perempuan negeri ini malah berlomba-lomba untuk menjadi yang paling ‘terbuka’. Simpati kepada Nurhaliza bahkan sempat tersirat dari ucapan salah seorang ustadz tenar.

Hanya saja, dalam tinjauan fikih tentang sebuah perbuatan dan peristiwa, tentu saja kita tidak dapat memberi penilaian hanya dari satu sisi saja. Sebuah konser musik jika ingin dinilai dari sudut pandang hukum Islam tidak cukup hanya melihat aspek pakaian si penyanyi itu. Di sana selain penyanyi, juga ada lirik lagu, suara nyanyian itu sendiri, serta penonton. Masing-masing harus diberi tinjauan fikih tersendiri, namun juga keseluruhannya harus dilihat secara integral. Nah, nasehat dari petinggi MUI di atas tentu akan mudah disederhanakan oleh sebagian publik dengan kalimat, “perempuan boleh nyanyi, boleh manggung, asal tutup aurat...”.

Kalimat sederhana yang mengandung kebenaran, namun pada saat yang sama kita sebagai Muslim dituntut untuk sangat berhati-hati.

Nasehat itu menjadi menarik karena disampaikan oleh tokoh besar nan ulama. Publik akan menilai berbeda jika saja hal itu disampaikan oleh misalnya seorang artis atau politisi, karena perkataan ulama mengandung sebuah ‘fatwa’ bagi sebagian orang, siratan hukum, bahkan restu atau larangan.

Penulis tidak bermaksud ingin memojokkan dan meragukan kapasitas keilmuan sang tokoh tersebut, juga tidak ingin berspekulasi tentang niatnya. Tentu saja kita semua berbaik sangka. Hanya saja, koreksi ini perlu diangkat demi penyadaran umat dan dalam rangka tawashaw bil haq, toh tidak ada manusia yang maksum, hatta ulama.

Kontroversi Suara dan Nyanyian

Nyaris tidak ada yang mempermasalahkan suara laki-laki. Namun, begitu suara itu dinisbatkan pada perempuan, timbul berbagai pendapat ulama. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa suara perempuan adalah aurat, sementara mazhab Syafi’i tidak menganggapnya aurat. Demikian pula, suara perempuan menurut jumhur ulama bukanlah aurat, berdasarkan beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi pun sering berbicara di hadapan para shahabat dalam rangka ta’lim atau keperluan lainnya yang dibolehkan oleh syara’.

Lain hukum suara, lain pula hukum nyanyian, walaupun nyanyian lahir dari suara. Dalam bab nyanyian, ikhtilaf lebih kentara. Pendapat para ulama pun terbagi dua, antara yang mengharamkan dan yang membolehkan. Ikhtilaf ini terjadi karena ada nash yang mencela nyanyian perempuan sementara ada juga nash yang menunjukkan kebolehan perempuan bernyanyi.

Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Imam Thirmidzi berbunyi, "Akan terjadi (di akhir zaman) penenggelaman bumi, hujan batu, dan pengubahan rupa. Ada seseorang dari umat Islam (sahabat) yang bertanya, "Kapankah hal itu akan terjadi? Maka beliau menjawab, "Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamer telah dianggap halal.”

Qur’an juga berbicara tentang suara perempuan, “Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dan berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS: al-ahzab:32).

Sementara itu, ada pula hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra : “Aku telah diziarahi oleh Abu Bakar r.a di  rumahku. Ketika itu di sampingku ada dua orang jariah yaitu gadis dari golongan Anshar, sedang mendendangkan syair golongan Anshar pada Hari Bu'as yaitu hari tercetusnya peperangan antara golongan Aus dan Khazraj. Aisyah berkata: ‘Sebenarnya mereka berdua bukanlah penyanyi.’ Abu Bakar r.a berkata: ‘Patutkah ada nyanyian syaitan di rumah Rasulullah s.a.w dan pada Hari Raya pula?’ Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: ‘Wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai Hari Raya dan ini adalah Hari Raya kami.’”

Selain nash di atas, beberapa riwayat juga memperlihatkan penunjukkan yang sekilas kontradiktif.

Maka, para ulama pun terbagi dua. Imam Al Suddi, Ibnu Manzur, Ibnu Athir berpendapat bahwa suara perempuan adalah aurat jika digunakan untuk bernyanyi, bernasyid atau melunakkan suara di hadapan lelaki yang bukan mahram.

Dalam Adwaul Bayan, dijelaskan bahwa para ulama tafsir menyebut, suara perempuan yang dilagukan adalah termasuk dari kecantikan-kecantikan (yang tidak harus dipertonton dan diperdengarkan kepada lelaki bukan mahram), tiada khilaf dalam hal ini. Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Imam al Qurthubi berpendapat, kerana suara yang seperti ini akan menjadikan orang-orang lelaki munafiq dan ahli maksiat berfikir jahat (oleh karenanya nyanyian dilarang—pen).

Sedangkan beberapa ulama kontemporer membolehkan nyanyian perempuan dengan syarat. Dr Yusuf Qaradhawi dalam fatwanya membolehkan perempuan bernanyi dengan catatan harus berada dalam kerangka hukum Islam yang menjamin diterimanya bernyanyi tanpa adanya praktik yang dilarang seperti menari, meminum alkohol, dan mengumbar nafsu belaka Secara terpisah.

Ibrahim Salah al-Din al-Houdhud, cendikiawan lain asal Universitas Al-Azhar mengatakan aturan tentang diizinkannya Muslimah bernyanyi telah disahkan dengan sejumlah catatan seperti tidak boleh melakukan hal yang melanggar agama, tidak boleh bernyanyi ketika ada tarian dan alkohol dan tidak boleh ada kamera yang merekam. Sementara itu, cendekiawan lainnya mengatakan Muslimah harus benryanyi dalam lingkungan jender non campuran. (www.republika.co.id, 22 September 2010).

Abdurrahman al-Baghdadi dalam  bukunya "Seni dalam Pandangan Islam" membolehkan nyanyian perempuan berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah mengizinkan dua perempuan budak bernyanyi di rumahnya (HR Bukhari).

Asy Syeikh Ahmad asy Syarbashi, salah seorang syeikh di Universitas al Azhar didalam bukunya "Mereka Bertanya Kepada Anda" menulis, “Hukum mendengar suara penyanyi perempuan bergantung keadaan suaranya. Apabila suaranya digetarkan dan dapat membangkitkan syahwat maka hal itu haram, diharamkan mendengarkannya”. Selain itu, kekhawatiran akan adanya fitnah akibat nyanyian juga dapat menjadi dasar pelarangan. Syeikh as-Shobuni berpendapat : sebaiknya kaum lelaki mencegah perempuan2 dari melakukan perkara yg membangkitkan fitnah dan tipu daya seperti memakai pakaian sempit, meninggikan suara, dan memakai wangi-wangian.

Ala kulli hal, pendapat-pendapat tersebut dapat kita pertemukan di satu titik yaitu nyanyian perempuan dapat jatuh kepada keharaman jika memang di dalamnya mengandung keharaman, karena pada asalnya suara perempuan itu sendiri bukanlah aurat.

Lirik yang mungkar dan mengajak maksiat menjadikan nanyian menjadi haram. Pakaian yang mengumbar aurat atau suara yang mendayu nan menggoda menjadikan nyanyian itu tidak boleh disimak. Sebaliknya, jika liriknya mengajak kepada kebaikan, mengingat Allah, suaranya wajar tidak mendayu, apalagi menyemangati jihad dan si penyanyi berpakaian syar’i serta tidak menggoyangkan tubuhnya untuk menarik perhatian lawan jenis, maka nyanyian tersebut menjadi boleh.

Persoalan Ikhtilat

Disamping permalasahan suara, pakaian dan lirik lagu, hendaknya kita tidak melupakan fakta sebenarnya dari pertunjukan-pertunjukan lagu pada hari ini, yaitu fakta konser musik yang di dalamnya ada sekumpulan penonton yang berkumpul di waktu dan tempat yang sama.

Dalam Islam, bercampur baurnya laki-laki dan perempuan dalam waktu dan tempat yang sama disebut ikhtilat. Para ulama mengharamkan ikhtilat ini, kecuali yang dibolehkan oleh syara’. Kebolehan tersebut jika kita teliti lebih karena kedaruratannya, dalam arti urgensi adanya pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang sulit dihindari, misalnya dalam jual beli di pasar, di aktivitas pendidikan, pengadilan dan pengobatan.

Taqiyuddin an Nabhani menulis, “Adapun dalam kehidupan umum, hukum asalnya adalah terpisah dan tidak boleh ada interaksi antara pria dan perempuan. Kecuali pada perkara-perkara yang telah dibolehkan syariah, di mana syariah telah membolehkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan suatu aktivitas untuk perempuan; serta pelaksanannya menuntut adanya interaksi dengan pria. Baik interaksi ini terjadi dengan tetap adanya pemisahan, seperti di dalam masjid, atau dengan adanya ikhtilâth (campur-baur), sebagaimana dalam aktivitas ibadah haji atau jual-beli.” (Sistem Pergaulan dalam Islam, hal. 55)

Sedang dalam hal menyimak lagu atau menonton, tidak kita temukan rukhsah satu pun untuk berikhtilat. Semestinya ini membuat kita berhati-hati dalam menyikapi fakta pertunjukkan musik, konser, kontes dan sebagainya. Jika faktor pakaian, penyanyi, suara, lirik dan ikhtilat menentukan penilaian kita terhadap acara kontes musik, maka “kebolehan  bernyanyi asalkan pakaiannya syar’i” akan tampak pincang jika pada saat yang sama ia bernyanyi di hadapan orang-orang yang berikhtilat.

Belum lagi jika kita tengok lirik lagunya, apakah ia mencerminkan ajakan kepada kebaikan? Padahal dalam acara-acara tersebut sudah dianggap biasa jika sang penyanyi membawakan lagu-lagu yang, bukannya berlirik mengingat Allah atau menyemangati ibadah dan amal sholeh, justru malah membawakan lagu-lagu dari Barat.

Satu lagi, faktor suara : betapa sulitnya kita menemukan kontes yang memenangkan kontestan perempuan dengan suara datar dan tidak menarik perhatian. Justru sebaliknya, kemenangan ditentukan oleh penilaian juri terhadap ‘keindahan’ suara si kontestan. Nah, jika keindahan suara itu dinilai, dinikmati oleh juri dan penonton yang notabene banyak yang bukan mahram, justru saat itulah fitnah yang dikhawatirkan oleh para ulama.

Mencermati fakta yang ada, tentu akan sangat sulit bagi kita memberi justifikasi syar’i dari keikutsertaan seorang muslim/muslimah dalam kontes-kontes musik di acara-acara televisi hari ini. Barangkali, hanya dalam kontes nasyid yang diselenggarakan oleh event organizer yang cukup memahami syariah untuk menyeleksi pakaian dan lirik yang dibawakan kontestan serta memisahkan tempat duduk perempuan dan laki-laki, maka justifikasi syar’i itu akan mudah diberikan. Namun, tentu konser-konser semacam itu tidak laku dijual di publik alias tidak bernilai komersil.

Sayang, di zaman ketika pelaksanaan syariah nyaris dilupakan, kita seringkali terjebak pada kompromi fikih: membolehkan sesuatu hanya dari satu sisi aktivitas saja, tanpa melihat ada sisi kemungkaran yang mengiringi aktivitas tersebut. Gejala kompromi fikih ini, adalah buah dari diterapkannya sekulerisme oleh negara yang memberikan pandangan dikotomis antara kehidupan agama dan kehidupab dunia. Sekali lagi, penulis tidak hendak menghakimi niat baik dari Pak Kiayi dan siapapun yang consern terhadap penjagaan moral generasi muda. Hanya saja, alangkah baiknya jika nasehat tersebut bersifat menyeluruh, meninjau juga faktor-faktor lain dari acara-acara konser dan kontes. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah pemerhati masalah sosial keagamaan
--------------
Tulisan oleh oleh: Reza Ageung
Penulis adalah pemerhati masalah sosial keagamaan 
Sumber tulisan : http://www.hidayatullah.com/read/28100/11/04/2013/fenomena-fatin-shidqia-dan-gejala-kompromi-fikih.html

Minggu, 28 April 2013

Kisah Ketegaran Bara'ah, Gadis Cilik Hafal Al-Qur'an Penderita Kanker

Al Qur’an Membuatnya Seteguh Karang Menghadapi Ujian yang Bertubi-tubi Datang.
--------------
Berikut ini adalah kisah Bara’ah Abu Lail gadis kecil yang menderita kanker ganas stadium akhir dan menjadi yatim piatu hanya dalam lima hari.[1]

Bara’ah Abu Lail , hafal Al Qur’an di usia 10 tahun. Namun Allah lebih Menghendakinya bahagia di jannah-Nya. Anak kecil ini divonis terkena kanker ganas. Setelah ibunya lebih dulu meninggal dunia karena penyakit yang sama.

Saat ibunya mengetahui umur nya tidak lagi panjang, sang ibu berkata kepada anaknya yang tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya :

"Anakku.... aku sebentar lagi ibu akan mendahului kamu menuju jannah allah. dan ibu ingin engkau setiap hari membacakan al qur’an yang telah engkau hafalkan di telinga ibu. kelak al qur’an itulah yang akan menjagamu di dunia (sepeninggal ibu …)

Demikianlah setiap sore gadis kecil ini membacakan Al Qur’an di telinga ibu yang terbaring lemah di rumah sakit.

Suatu hari ayah Bara’ah mendapat berita sangat penting dari rumah sakit bahwa kondisi istrinya kritis. Maka tanpa pikir panjang ia bergegas mengajak Bara’ah menuju rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, sang ayah tidak ingin anaknya ikut bersamanya melihat apa yang terJadi dengan ibunya. Ia khawatir gadis kecil itu shock jika mendengar kabar kondisi terburuk yang terjadi pada ibunya. Rupanya sang istri benar-benar sedang kritis.

Dalam kondisi sangat berduka ayah Bara’ah bergegas menuju mobilnya untuk memberitahukan kondisi ibunya, namun Allah berkehendak lain. Karena guncangan jiwa akibat musibah yang diterimanya, ia tidak fokus saat menyeberang jalan.

Qaddarullah, sebuah mobil menabraknya. Laki-laki itu pun meninggal seketika di hadapan putri tercintanya. Bara’ah menangis tersedu-sedu sambil memangku jasad ayahnya tercinta yang sudah tak bernyawa lagi.

Belum selesai musibah yang harus dihadapi gadis kecil ini, lima hari berselang dari wafatnya sanga ayah, ibunya tercinta pun menyusul dipanggil Allah menghadap-Nya. Tinggallah Bara’ah sebatang kara di negeri orang. Kedua orangtua Bara’ah adalah warga negara Mesir yang bekerja sebagai tenaga medis di Arab Saudi.

Tidak berselang lama, tanpa sebab tanpa gejala apapun sebelumnya, gadis kecil ini merasakan kesakitan yang luar biasa sebagaimana dialami oleh ibunya. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia pun mengidap penyakit kanker stadium akhir seperti yang dialami oleh ibunya. Namun dengarlah apa yang diucapkan gadis kecil ini ketika ia tahu apa yang dialaminya :

“alhamdulillah …. sebentar lagi aku akan menyusul papa dan mama….!!!”

Seluruh yang mendengar ucapan gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Ujian dan musibah yang bertubi-tubi menimpa anak sekecil itu tetapi tidak sedikit pun membuatnya putus asa atau gundah gulana. Ia bahkan begitu sabar menghadapi beratnya cobaan hidup yang dihadapinya.

Subhaanallaah… Al-Qur’an membuatnya seteguh karang menghadapi ujian yang bertubi-tubi datang

Seorang dermawan Saudi Arabia lalu membiayainya untuk berobat ke Inggris. Dan berikut adalah suara terakhir dari Bara’ah sesaat sebelum Allah Memanggilnya menghadap-Nya di Jannah Nya, Insya Allah :














----------------
Tulisan oleh Ustadz Fuad Al Hazimi di http://www.voa-islam.com/muslimah/mujahid/2013/04/25/24186/kisah-ketegaran-baraah-gadis-cilik-hafal-alquran-penderita-kanker/

Sabtu, 20 April 2013

Kisah Penyelam Ulung

Alkisah, ada seorang penyelam yang ulung. Pada suatu hari ia disuruh oleh majikannya untuk mencari mutiara yang ada di dasar laut. Ia disuruh mencari mutiara sebanyak-banyaknnya yang nantinya karena akan dibeli oleh sang majikan sendiri dengan harga yang sangat mahal. Penyelam itu juga diberikan bekal oksigen secara cuma-cuma oleh majikannya. Sang Penyelam dengan gembira dan optimis menyatakan kesanggupannya, ia berjanji akan membawa mutiara yang banyak dari hasil penyelamannya nanti.

Di dasar laut niat penyelam terbagi karena begitu takjub dan tergoda dengan keindahan lautan. Ada ikan-ikan kecil yang warna-warni serta panorama dasar laut yang indah, sampai tak terasa waktu-pun beralu. Ia segera ingat tugasnya untuk mencari mutiara. Tanpa ia sadari bahwa tabung udara di punggungnya  hampir habis.

Lalu penyelam ini merasa kebingungan karena mutiara yang diambil baru sedikit untuk dimasukan ke jaring. Belum banyak ia kumpulkan mutiara, tiba-tiba dadanya sesak sebab tabung udara telah habis, segera ia naik ke arah permukaan. Ketika berenang kepermukaan ia lupa jaringnya belum diikat. Hingga akhirnya sedikit yang bisa diambil oleh penyelam ini dan majikannya tidak mengijinkan untuk kembali menyelami lautan.

Ini merupakan suatu perumpamaan dalam hidup kita, majikan ibarat Allah yang memerintahkan sesuatu, dalam kisah diperintahkan mencari mutiara itu ibarat syariat yang dibuat oleh-Nya. Oksigen ibarat nafas kita, lautan dan segala keindahannya ibarat dunia dan keindahannya. Terkadang kita terlalaikan dengan keindahan dunia dan lupa akan kewajiban dari-Nya. Hingga pada suatu ketika telah tiba waktu kita berpisah dengan segala yang ada didunia, apa yang dijadikan bekal ternyata hanyalah sedikit. Sebagaimana dalam kisah mutiara itu dimasukan kedalam jaring dan lupa untuk mengikat jaring tersebut. Pengikat jaring itu suatu ibarat keikhlasan yang luntur karena berbagai hal yang bersifat duniawi.

Akhirnya adalah penyesalan seraya berkata “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” ( QS: Al-Fajr : 24). Setiap yang bernafas akan mengalami kematian yang dipertangunggjawabkan hanyalah amal sholeh yang diterima oleh-Nya. Sehingga apapun yang dilakukan perlu kita sadari sebagai manusia akhir-akhirnya ialah ajal yang menjemput. Jabatan, harta, tak lagi berguna manakala ajal menjemput kita. Mari kita benahi hidup kita.

Wallahu’alam. . .
-----------------------
Tulisan oleh De Hanif di www.eramuslim.com

Sabtu, 13 April 2013

"Tidak Pernah Ada Nada Sibuk Jika..."

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:

"Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah".

Tekan 1 untuk 'meminta'.
Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau....
Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu.
Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:

"Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat,

Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail,
Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,
Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,
Tekan 4. "Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!"

Atau bisa juga Anda mendengar ini :

"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini. Silakan mencoba kembali esok hari."
atau...
"Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."
Alhamdulillah. .. Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya setiap saat!!!

Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda. Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk. Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini: 24434

2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya

Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak kemashlahatannya, gunakan nomor ini : 28443483

2 : shalat Subuh
8 : Shalat Dhuha
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
8 : Shalat Lail (tahajjud atau lainnya)
3 : Shalat Witir

Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul "Al Qur'anul Karim & Hadist Rasul"

Langsung hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.

Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun !!!

Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita. Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya

Sabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih laut"

7 Kalimah ALLAH:

1. Mengucap "Bismillah" pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap " Alhamdulillah" pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap "Astaghfirullah" jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap " Insya-Allah" jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah " sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.

Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat. ... mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu... mudah-mudahan jadi bisa, karena sudah biasa.
-----------------------------
Penulis : Rubianto Arief

Senin, 08 April 2013

Demba Ba, Penyerang Chelsea Yang Rajin Sholat Lima Waktu

Penyerang Chelsea Demba Ba dan ujung tombak AC Milan Mario Balotelli sama-sama moncer pada musim ini. Keduanya menjadi tumpuan klubnya untuk membobol gawang lawan. Karena itu, tidak sedikit penggemar dan komentator lapangan hijau mencoba menyandingkan ketajaman keduanya.

Mendapati dibandingkan dengan Balotelli, Ba sepertinya kurang berkenan. Ia bahkan marah dan mempertanyakan mengapa harus disamakan dengan penggawa Gli Azzurri yang dikenal gemar membuat ulah itu. Karena tidak nyaman, eks bomber Newcastle United itu menumpahkan uneg-unegnya.

Ba menekankan keheranannya, mengapa ia bisa disandingkan dengan Super Mario yang lekat memiliki kepribadian buruk.

'Saya tidak suka ketika seseorang membandingkan saya dengan Mario Balotelli. Saya tidak merokok, saya tidak mabuk… dan saya shalat lima waktu setiap hari di masjid," kata Ba dikutip Africatopsports belum lama ini.

Ba memang dikenal sebagai sosok pemain Muslim taat. Selain gemar melakukan selebrasi sujud syukur usai mencetak gol, ia juga berdoa menjelang pertandingan. Ketika ada rekannya yang mengalami nasib kurang beruntung, Ba tidak segan mendoakannya.

Tidak salah, manajer the Magpies Alan Pardew terkesan dengan gaya hidup mantan pemain andalannya itu. Sebagai seorang Muslim taat, kata Pardew, Ba sangat profesional dalam menjaga kondisi tubuh dan menjauhkan diri dari minuman alkohol.

Menurut Pardew, pola kehidupan Ba sudah benar dan pantas. Ia bahkan menilai Ba layak menjadi duta agama yang dianutnya, yakni Islam.
-------------------
Tulian dikutip dari: http://www.republika.co.id/berita/sepakbola/freekick/13/04/08/mkwtde-demba-ba-rajin-shalat-lima-waktu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Chitika

 

Buletin Hidayah Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger